Aktual

Saptu Ngawangkong di Cimaart: Ketika Seni, Budaya dan Silaturahmi Bertemu Tanpa Sekat

 

Saptu Ngawangkong menjadi ruang silaturahmi yang dikemas secara cair, Kota Cimahi, (19/9/2026).

Cimahi, Cimahi Aktual — Tak selalu membutuhkan panggung, sorotan lampu, atau acara yang serba formal untuk melahirkan sebuah karya dan gagasan. Di Cimaart, (19/9/2026), suasana sederhana justru menjadi ruang bertemunya seniman, budayawan, jurnalis, relawan, tokoh masyarakat hingga berbagai lapisan masyarakat dalam kegiatan Saptu Ngawangkong.

Saptu Ngawangkong menjadi ruang silaturahmi yang dikemas secara cair. Di tempat ini, siapa pun dapat duduk bersama, berbincang, curhat, bernostalgia, berdiskusi hingga mengupas berbagai persoalan dan hal yang tengah viral di tengah masyarakat.

Tidak ada sekat. Tidak ada batas antara siapa yang harus berbicara dan siapa yang hanya mendengarkan. Semua memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan bersuara melalui karya.

Salah satu penggagas Saptu Ngawangkong, Yoyo, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang yang melahirkan ide dan gagasan baru.

Menurutnya, para seniman, budayawan maupun pelaku seni lainnya membutuhkan ruang untuk bertemu dan berkolaborasi. Saptu Ngawangkong diharapkan dapat menjadi salah satu ruang tersebut.

“Harapannya, ruang silaturahmi ini bisa melahirkan ide dan gagasan baru. Semua bisa berkolaborasi dalam karya,” ungkap Yoyo.

Menariknya, Saptu Ngawangkong juga menjadi tempat bagi siapa pun untuk mempresentasikan karyanya dengan cara yang sederhana.

Seorang penyair bisa membacakan puisinya tanpa panggung, tanpa hingar-bingar, tanpa sorotan lampu, bahkan tanpa tuntutan harus tampil di hadapan banyak penonton. Semua mengalir apa adanya.

Didin Tulus, seorang penulis dan penyair, merasakan sensasi tersendiri ketika membacakan puisinya dalam suasana tersebut.

“Plong, pokona mah,” ujarnya.

Sementara para seniman lukis mendapatkan ruang untuk menceritakan kisah, proses dan makna yang ada di balik karya mereka.

Ruang silaturahmi ini bisa melahirkan ide dan gagasan baru, Kota Cimahi, (19/9/2026).

Suasana semakin menarik ketika Abdurrahman Abro, seniman maestro, turut menghidupkan obrolan dengan canda dan cawokah. Cerita masa lalu, budaya dan kebiasaan masyarakat dahulu kembali digali untuk kemudian dikaitkan dengan kehidupan masa kini.

Dari obrolan sederhana itu, muncul sebuah refleksi bahwa masa lalu bukan sekadar kenangan. Ada adab, perilaku dan nilai kehidupan yang masih relevan untuk dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi Jumari, seorang jurnalis, keberadaan Saptu Ngawangkong turut mempererat hubungan antara insan pers dengan para pelaku seni.

“Dengan adanya Saptu Ngawangkong, silaturahmi dengan pelaku seni semakin erat dan hangat. Semoga bisa terus berlanjut dan berdampak,” tuturnya.

Saptu Ngawangkong pada akhirnya bukan hanya kegiatan berkumpul dan berbincang. Ia menjadi ruang kecil dengan gagasan besar: tempat karya menemukan cerita, cerita melahirkan gagasan, dan silaturahmi membuka peluang kolaborasi.

Tempat karya menemukan cerita, cerita melahirkan gagasan, dan silaturahmi, Kota Cimahi, Jawa Barat, (19/9/2026).

Dari sebuah obrolan sederhana, siapa tahu lahir karya dan gerakan yang memberi warna bagi kehidupan seni dan budaya di Kota Cimahi.


Reportase : Lin Karliana 

Jurnalis : Virgi Ali 

Editor : Raden William

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close