Cimahi, Cimahi Aktual — Peringatan Hari Aksara Sedunia 2026 di Saung Atikan Yayasan Haur Wulung Kencana, Jalan Kamarung, Kampung Nyalindung, Kelurahan Citeureup, RT 07/RW 09, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat, (12/9/2026), menjadi momentum untuk meneguhkan kembali jati diri masyarakat melalui aksara Sunda.
Mengusung tema “Némbragkeun Rasa Rumasa Kana Aksara, Ku Aksara Jadi Baraya”, kegiatan tersebut diisi dengan Talkshow Atikan Aksara, sajian seni Ketuk Tilu, serta Seni Tarawangsa. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama.
Sejumlah tokoh turut hadir dan menyampaikan pandangan mengenai pentingnya aksara sebagai bagian dari identitas budaya. Mereka di antaranya Ketua Gentra Pamitran Mang Ujang La’ip, Ir. Rd. Riza Rahmadjasa Mintaredja dari Pupuhu Gentra Padjadjaran, Sekretaris Forum RW Kota Cimahi Dede Suyatno, serta Ketua Yayasan Haurwulung Ustadz Rizal Risnandar.
Dalam pemaparannya, Mang Ujang La’ip menjelaskan bahwa Gentra Padjadjaran merupakan upaya untuk menyerukan kembali kejayaan wilayah Padjadjaran yang kini tersekat menjadi beberapa bagian. Gerakan tersebut membawa semangat Pancaniti dan kesadaran untuk kembali mengingat jati diri serta keberadaan nagara.
“Dalam aksara ada angka, dari angka ada basa, dari basa ada warta, dari warta ada daya,” ungkapnya.
Menurutnya, aksara tidak hanya dipahami sebagai bentuk tulisan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, komunikasi, dan kekuatan budaya. Semangat tersebut sejalan dengan konsep mitigasi atau mapag dalam Wangsit Siliwangi yang memandang Padjadjaran sebagai wilayah luas yang meliputi pulau-pulau di seluruh Indonesia.
Pembahasan juga menyinggung arsitektur Sunda sebagai salah satu wujud budaya yang masih hidup. Arsitektur tersebut dinilai menjadi serpihan penting yang memperlihatkan kesinambungan pengetahuan dan nilai-nilai masyarakat Sunda.
Sementara itu, Acara yang dipandu oleh Din Fikram dan melalui penampilan monolog yang dibawakan Achmad Safei, peserta diajak memahami filosofi Panca Aksara atau aksara vokal Sunda. Huruf A dimaknai sebagai Acitya atau ilmu pengetahuan, I sebagai Ikati atau petunjuk hati, Usebagai Ubaya atau dua cara, E sebagai Eka atau satu, dan O sebagai Ogaya atau yang terbaik.
Filosofi tersebut mengandung pesan bahwa ilmu pengetahuan dan petunjuk hati harus menjadi dasar dalam memilih satu jalan terbaik dari berbagai cara yang tersedia.
Pesan moral juga disampaikan melalui petuah, “Jaga peura ngaca ka saha, nyatana lara mawa baya. Ka hareup urang rek nanya jeung nyonto ka saha, lamun nu dipiharep geus sarakit moralna.”
Dalam sesi sejarah aksara, dijelaskan bahwa penggunaan aksara di Tatar Sunda memiliki perjalanan panjang. Pada abad ke-5, masyarakat mengenal aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta pada masa Tarumanagara. Selanjutnya, pada abad ke-14 hingga ke-18, berkembang Aksara Sunda Kuno atau Sunda Buhun yang berakar dari Pallawa melalui aksara Kawi.
Dari Kawi kemudian berkembang sejumlah aksara, antara lain Jawa, Bali, Sunda Kuno, Cacarakan, dan Buda. Pada abad ke-17, setelah Tatar Sunda berada di bawah pengaruh Mataram, penggunaan Aksara Sunda Kuno mulai ditinggalkan secara paksa. Surat resmi tertanggal 3 November 1705 mewajibkan penggunaan aksara Latin, Arab Gundul atau Pegon, serta aksara Jawa modifikasi atau Cacarakan.
Kemudian pada 1905, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan edaran yang hanya mengakui aksara Latin, Cacarakan, dan Pegon. Kebijakan tersebut bukan dikeluarkan VOC, karena VOC telah dibubarkan pada 1799.
Upaya merumuskan Aksara Sunda Baku atau Kaganga mulai dilakukan pada 1999 oleh tim dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pendidikan Indonesia. Perumusan itu berlandaskan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 434/SK.614-Dis.PK/99 tanggal 16 Juni 1999.
Standardisasi kemudian dilakukan pada 20 Oktober 2008 atas prakarsa Dinas Pendidikan Jawa Barat bersama UPI dan Unpad di Aula Unpad. Dari proses tersebut lahir standardisasi Unicode Aksara Sunda Kaganga yang selanjutnya disosialisasikan secara luas pada 2010.
Mang Ujang La’ip atau Bah Yudistira Purana Sakya Kitri, yang merupakan putra asli Cimahi, dikenal sebagai maestro yang konsisten memperjuangkan keberadaan Aksara Sunda. Dalam catatan sejarah Sunda Kuno, Ki Raga dan Dawit juga disebut sebagai tokoh yang menginisiasi Caraka.
Melalui kegiatan tersebut, Gentra Padjadjaran kembali menegaskan semangatnya dengan slogan “Papak Jajar Rata Natanagara”, sekaligus mengajak masyarakat menjadikan aksara Sunda sebagai bagian dari kehidupan dan jati diri bersama.
Reportase : Asri Mulyani
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Raden William






0 Komentar