Kab. Bandung Barat, Cimahi Aktual — Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyelamatkan diri dan menghadapi kondisi darurat secara fisik. Kesiapan psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan komunitas.
Hal tersebut menjadi perhatian Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) melalui Kelompok Bidang Keilmuan (KBK) Psikologi Industri dan Organisasi yang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Penguatan Kapasitas Organisasi PKK dan Warga dalam Manajemen Krisis Psikologis” di Dusun 1, Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, (10/9/2026).
Mengusung tema “Dosen Pulang Kampung”, kegiatan tersebut diwujudkan melalui pelatihan Psychological First Aid (PFA) dan Kebencanaan yang diikuti sebanyak 34 peserta, terdiri dari pengurus PKK dan warga masyarakat.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memberikan dukungan psikologis awal kepada masyarakat yang mengalami tekanan, stres, maupun krisis psikologis akibat bencana dan berbagai situasi darurat lainnya.
Desa Lembang memiliki karakteristik wilayah yang cukup kompleks. Selain dikenal sebagai kawasan pertanian dan pariwisata dengan mobilitas penduduk yang tinggi, wilayah Lembang juga memiliki potensi kerawanan bencana, termasuk ancaman yang berkaitan dengan Sesar Lembang.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal yang penting. Tidak hanya kesiapan secara fisik, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi dampak psikologis yang mungkin muncul ketika bencana maupun situasi krisis terjadi.
Dalam kondisi bencana, kecelakaan, kehilangan, konflik keluarga, hingga tekanan sosial dan ekonomi, seseorang dapat mengalami respons stres dan gangguan psikologis. Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan psikologis awal secara tepat menjadi salah satu upaya untuk memperkuat ketahanan masyarakat.
Pelatihan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memberikan dukungan psikologis, Kab. Bandung Barat, (10/9/2026).Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi kebencanaan, Psychological First Aid, teknik komunikasi dalam situasi krisis, hingga penerapan prinsip “Look, Listen, Link”.
Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga mengikuti simulasi kasus dan role-play. Metode tersebut memungkinkan peserta mempraktikkan secara langsung cara berkomunikasi secara empatik, memberikan dukungan, serta menghubungkan individu yang membutuhkan bantuan dengan sumber dukungan yang tepat.
Ketua Pelaksana Pengmas, Endah Andriani Pratiwi, S.Psi., M.Psi., bersama anggota tim dosen Yoga Hardianto, S.Psi., M.Psi., Shinta Febrina, S.Psi., M.Psi., dan Ulfah Trijayanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, turut melibatkan sejumlah fasilitator trainer.
Para fasilitator tersebut terdiri dari Indah Ayu Larasati, M.Psi., Psikolog; Dr. Arief Budiarto, Psikolog, DESS; Indra Kurniawan, M.Psi., Psikolog; serta Ahmad Helmy N, S.Psi., M.Psi.
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Fakultas Psikologi Unjani sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman langsung dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, fasilitasi, observasi, dan kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan psikologis yang ada di tengah masyarakat.
Mendapat Apresiasi Pemerintah Desa
Kepala Desa Lembang, H. Dikdik Sadikin, S.IP., menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus membantu perangkat desa dalam menghadapi berbagai persoalan psikologis yang muncul di lingkungan warga.
Ia juga berharap program tersebut dapat terus bersinergi dengan visi dan misi Desa Lembang serta menjadi contoh kolaborasi yang dapat dikembangkan di dusun maupun desa lainnya.
Sementara itu, Kepala Dusun 1 Lembang, Derick Rangga, S.Pd., menilai kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dimiliki perguruan tinggi akan semakin memberikan manfaat apabila dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Dusun 1, Anita. Menurutnya, pelatihan PFA memberikan pengetahuan dan keterampilan baru bagi kader PKK maupun warga, khususnya dalam menghadapi situasi krisis psikologis yang dapat terjadi akibat bencana.
“Pertolongan pertama psikologis merupakan istilah baru bagi kami dan menjadi ilmu baru yang sangat bermanfaat. Kami jadi mengetahui bagaimana seharusnya bersikap dan berkomunikasi ketika menghadapi warga yang sedang mengalami tekanan atau krisis psikologis,” ujar Anita.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan semata, tetapi dapat diterapkan oleh kader PKK dan warga ketika menghadapi situasi darurat di lingkungan masing-masing.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana dan berbagai situasi krisis. Dengan bekal pengetahuan PFA, warga diharapkan mampu memberikan dukungan awal secara tepat, empatik, dan manusiawi sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pihak yang berkompeten.
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Raden William





0 Komentar