Cimahi, Cimahi Aktual — Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi menggelar Dialog Budaya yang dirangkaikan dengan pengukuhan Pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) masa bakti 2026–2030 sekaligus memperingati Hari Aksara Internasional. Kegiatan berlangsung di Aula Gedung B Pemkot Cimahi, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Cimahi Letkol (Purn) Ngatiyana, Asisten Wali Kota Cimahi Hendra Gunawan, S.Sos., Kepala Disbudparpora Kota Cimahi Drs. Dani Bastian, Kepala Bidang Disbudparpora Kota Cimahi Raden Lucky Sugih Mauludin, S.E., M.M., Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat H. Yomanius Untung, S.Pd., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., serta para calon ketua dan anggota pengurus DKKC.
Acara dipandu Inge Sulistiawati, S.IP., M.Si., sementara Dialog Budaya dimoderatori Fajar Firdaus Adiparta, S.IP., M.M. Keduanya sukses menghadirkan suasana hangat, ceria, edukatif dan menghibur sepanjang kegiatan.
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan doa yang dipimpin tokoh budayawan Kota Cimahi, Ustadz Rizal.
Dalam sambutannya sebagai Ketua Penyelenggara, Kepala Disbudparpora Kota Cimahi, Dani menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut memiliki maksud untuk merumuskan strategi kebudayaan di Kota Cimahi sekaligus memantapkan pengukuhan DKKC secara resmi.
Selain itu, pengelolaan kebudayaan di Kota Cimahi diharapkan dapat semakin dipertanggungjawabkan secara akuntabel dan tepat sasaran. Dani juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem kebudayaan agar berbagai potensi budaya di Kota Cimahi dapat terus berkembang dan memiliki arah yang jelas.
Sambutan selanjutnya disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Iendra, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus memberikan pendampingan terhadap perkembangan kebudayaan di daerah.
Dalam konteks kebudayaan Jawa Barat, Iendra menyoroti keberagaman budaya yang berkembang di wilayah tersebut, di antaranya Sunda Priangan, Sunda Betawi dan Sunda Kacirebonan. Menurutnya, kebudayaan akan terus berkembang selama keberadaannya tetap dijaga dan dihidupkan oleh masyarakat.
Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan bagaimana kebudayaan dapat terus berkembang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata Iendra, akan terus mencoba memberikan pendampingan dalam pengembangan kebudayaan di daerah.
Sementara itu, Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius, dalam sambutannya menyoroti perkembangan kebudayaan yang sangat dinamis. Menurutnya, dinamika tersebut perlu diikuti dengan perhatian serta kebijakan yang mampu menjaga dan mengembangkan kebudayaan.
Yomanius juga menyampaikan mengenai penyusunan Raperda Kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan kebudayaan di Jawa Barat. Ia menilai penguatan kebudayaan membutuhkan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak.
Memasuki agenda utama, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana melantik, mengukuhkan dan meresmikan anggota DKKC masa bakti 2026–2030 melalui pengucapan sumpah/janji.
Dalam sambutannya, Ngatiyana menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia mengatakan Kota Cimahi merupakan kota yang heterogen sehingga kebudayaan memiliki peran penting dalam memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Ngatiyana juga menyampaikan terima kasih kepada DPRD Jawa Barat, khususnya Komisi V, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat yang telah bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Cimahi.
Dalam momentum peringatan Hari Aksara Internasional, Ngatiyana turut menegaskan keberadaan aksara sebagai bagian dari identitas. Keberadaan aksara menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Usai pengucapan sumpah/janji, dilakukan serah terima simbolis pengukuhan dari Wali Kota Cimahi Ngatiyana kepada Ketua DKKC masa bakti 2026–2030, Siti Yanti Abintini, S.H., M.M.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Dialog Budaya yang menghadirkan Abah Ujang La’ip, tokoh budayawan bidang sastra dan aksara, sebagai narasumber. Dialog tersebut menjadi ruang untuk membahas sastra, aksara serta keberlangsungan kebudayaan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan tidak hanya diisi dialog, tetapi juga menghadirkan Special Performance. Pertunjukan dibuka dengan Tari Campernik, kemudian dilanjutkan monolog oleh Ahmad Safe’i.
Rangkaian pertunjukan ditutup dengan penampilan artistik berkonsep seni tari, drama dan musik, (Sendratasik), dari Ansamble Larasvara.
Reportase : Asri Mulyani
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Raden William










0 Komentar