Bandung, Cimahi Aktual — Literasi tidak selalu harus hadir dalam ruang yang formal dan kaku. Di tangan musisi balada Ferry Curtis, pesan tentang pentingnya membaca dan pengetahuan justru mengalir melalui petikan gitar, lirik puitis, dan musik yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Ferry Curtis konsisten membawa pesan literasi melalui karya musiknya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa buku dan budaya membaca dapat diperkenalkan melalui cara yang lebih emosional, kreatif, dan menyenangkan.
Di tengah perkembangan media sosial, multimedia, serta hadirnya teknologi kecerdasan artifisial, gerakan literasi pun menghadapi tantangan baru. Pesan tentang membaca dituntut mampu masuk ke ruang digital yang menjadi bagian dari keseharian generasi muda.
Kesahajaan yang Menjadi Kekuatan
Lahir di Purwakarta pada 20 Oktober 1969 dengan nama R. Ferry A. Anggawijaya, Ferry dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan murah senyum.
Di balik penampilannya yang sederhana dengan gitar akustik, Ferry memiliki perjalanan panjang dalam dunia musik dan gerakan literasi. Ia dipercaya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk menggubah sejumlah lagu bertema literasi, di antaranya “Mars Perpustakaan” dan “Ayo ke Pustaka”.
Perjalanan hidup yang tidak selalu mudah turut membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan dan buku. Pernah mengalami putus sekolah dan menjalani kehidupan sebagai pengamen di sekitar Bandung, Ferry kemudian menempuh ujian persamaan untuk menyelesaikan pendidikan SMA.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami arti penting pendidikan dan buku dalam membuka wawasan.
“Saya pernah menemui hal paling rumit dalam pendidikan, dan saya merasakan buku itu sangat menolong saya. Ketika buku dan guru memberikan semangat yang tidak pernah luntur, saya berterima kasih kepada mereka. Lantas sebagai pemusik, saya menaruh rasa terima kasih itu dalam lirik,” ujar Ferry saat ditemui di sela kesibukannya, Sabtu (19/9/2026).
Kesederhanaan menjadi salah satu kekuatan Ferry dalam menyampaikan pesan. Musik baginya bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan untuk menyampaikan pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan.
Membawa Literasi ke Ruang Digital
Semangat literasi melalui seni kini dapat dikembangkan lebih jauh dengan memanfaatkan ekosistem multimedia.
Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan adalah mengemas musikalisasi puisi dan cerita ke dalam format immersive audio storytelling. Cerita fiksi, sejarah lokal, maupun kisah-kisah inspiratif dapat diproduksi melalui platform audio digital dengan dukungan tata suara yang membuat pendengar seolah masuk ke dalam cerita.
Konsep tersebut juga dapat dipadukan dengan gamifikasi. Di akhir sebuah episode, misalnya, pendengar diberikan petunjuk mengenai halaman atau bab tertentu dari sebuah buku yang harus dibaca untuk mengetahui kelanjutan cerita.
Dengan cara ini, teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga pintu masuk menuju aktivitas membaca.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels pun dapat dimanfaatkan sebagai ruang kreatif. Karya-karya musik literasi dapat diperkenalkan kembali melalui tantangan musik, aransemen ulang, maupun kolaborasi dengan kreator muda.
Genre seperti lo-fi, pop urban, hingga bentuk musik kontemporer lainnya dapat menjadi medium baru untuk memperkenalkan pesan literasi kepada audiens yang lebih luas.
Menghadirkan Perpustakaan ke Ruang Publik
Gerakan literasi juga dapat keluar dari ruang perpustakaan dan hadir di tengah kehidupan masyarakat melalui konsep pop-up library concert.
Konser musik akustik berukuran kecil dapat digelar di taman kota, pasar kreatif, ruang publik, hingga kawasan transportasi. Aktivitas membaca dan menikmati musik kemudian dipadukan menjadi sebuah pengalaman kebudayaan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Konsep serupa bahkan dapat dikembangkan bersama pelaku usaha lokal, seperti kedai kopi. Program bertema “Menu Buku”, misalnya, dapat memberikan akses bacaan digital melalui kode QR yang tersedia di meja atau tatakan gelas.
Berbagai gagasan tersebut menunjukkan bahwa literasi dapat terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.
Meneladani perjalanan Ferry Curtis bukan berarti sekadar meniru cara yang telah dilakukannya. Yang lebih penting adalah merawat semangatnya: bagaimana pengetahuan, buku, seni, dan musik dapat menjadi bahasa yang dekat dengan masyarakat.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi, literasi bukan hanya persoalan kemampuan membaca teks. Literasi juga menjadi kemampuan memahami kehidupan, menyaring informasi, mengolah pengetahuan, dan kemudian mengubahnya menjadi gagasan yang bermanfaat.
Reportase : Lin Karliana
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Raden William



0 Komentar