Cimahi, Cimahi Aktual — Anggota DPR RI Adian Napitupulu bersama Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Rafael Situmorang, S.H., mendorong keterlibatan generasi muda dalam menghidupkan seni dan budaya Nusantara, termasuk menjaga kekayaan kebudayaan adat Sunda yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa Barat. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan di Saung Atikan Yayasan Haur Wulung Kencana, Jalan Kamarung, Kampung Nyalindung, Kelurahan Citeureup, RT 07/RW 09, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari agenda reses tersebut menghadirkan Adian Napitupulu, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang bertugas di Komisi X DPR RI, serta Rafael Situmorang, S.H., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan. Hadir pula tokoh seniman dan budayawan Kota Cimahi serta Bandung Raya.
Tidak hanya menghadirkan pelaku seni dan budaya, kegiatan tersebut turut mengundang pihak sekolah dan siswa SMAN 2 Cimahi, serta Komunitas Seniman Muda Kota Cimahi yang diisi generasi Z. Pertemuan lintas generasi tersebut menjadi ruang bertemunya pengalaman para seniman dan budayawan dengan kreativitas generasi muda.
Rafael Situmorang mengatakan, masyarakat Kota Cimahi memiliki kedekatan dengan seni dan budaya Nusantara, termasuk kebudayaan adat Sunda. Menurutnya, kekayaan budaya lokal tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk kegiatan seremonial, tetapi perlu terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda.
“Budaya itu bagian dari identitas. Kebudayaan Sunda yang tumbuh di Jawa Barat perlu terus dikenalkan dan dikembangkan. Generasi muda harus diberikan ruang untuk terlibat, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku dan pencipta,” ujar Rafael.
Ia menilai budaya Sunda memiliki nilai, tradisi, bahasa, kesenian dan berbagai bentuk ekspresi yang dapat terus dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Menurutnya, teknologi digital juga dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
“Jangan sampai budaya hanya kita kenang, tetapi tidak kita kembangkan. Tradisi harus tetap memiliki akar, namun cara menyampaikannya bisa mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak muda Cimahi memiliki kreativitas dan energi untuk membawa kebudayaan Sunda ke ruang-ruang baru,” katanya.
Semarak kegiatan semakin terasa melalui penampilan Sanggar Tari Ratasya Traditional Dance. Sejumlah pertunjukan ditampilkan, mulai dari upacara adat hingga Tari Campernik dan Tari Persembahan yang memperlihatkan kekayaan seni tradisional.
Pertunjukan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus edukasi bagi masyarakat dan para pelajar. Nuansa kebudayaan adat Sunda semakin terasa melalui seni pertunjukan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya di Jawa Barat.
Keterlibatan komunitas seniman muda dan Gen Z juga memberikan warna tersendiri. Generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan memperkenalkan kebudayaan melalui berbagai medium, tanpa kehilangan akar tradisinya.
Ketua Yayasan Haur Wulung Kencana, Ustadz Rizal, menyampaikan bahwa pengembangan kebudayaan memiliki landasan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, kemajuan kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai unsur melalui pendekatan pentahelix.
“Pentahelix menjadi penting dalam kemajuan kebudayaan karena pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, dan media memiliki peran masing-masing. Ketika kelima unsur tersebut berkolaborasi, aspirasi masyarakat dapat lebih mudah diwujudkan dan kebudayaan memiliki ruang untuk terus berkembang,” ujar Ustadz Rizal.
Ia menilai Saung Atikan dapat menjadi ruang pertemuan berbagai unsur tersebut. Masyarakat, sekolah, seniman, budayawan, komunitas muda, pemerintah, dunia usaha dan media dapat membangun komunikasi serta kolaborasi untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di Kota Cimahi, termasuk menjaga keberadaan kebudayaan adat Sunda.
Kehadiran tokoh seniman dan budayawan Kota Cimahi, Bandung Raya, siswa SMAN 2 Cimahi, komunitas seniman muda serta generasi Z memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya.
Melalui ruang kebudayaan seperti Saung Atikan, seni dan budaya Nusantara, khususnya kebudayaan adat Sunda, diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup, berkembang dan menemukan bentuk baru di tangan generasi muda.
Reportase : Asri Mulyani
Jurnalis : Virgi Ali
Editor: Raden William





0 Komentar