Aktual

Dari Shinkendo hingga Kyudo, Festival Budaya Asia 2026 Buka Ruang Kolaborasi Ekonomi Kreatif

Shinkendo bukan sekadar seni bela diri yang berorientasi pada perolehan poin dalamnya terdapat nilai filosofi, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, (20/9/2026).

Kab. Bandung Barat, Cimahi Aktual — Festival Budaya Asia 2026 menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan Asia yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di The Kana Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Festival yang diselenggarakan Universitas Borromeus tersebut menghadirkan beragam kekayaan budaya Asia, mulai dari kuliner, olahraga, pendidikan hingga berbagai karya ekonomi kreatif.

Salah satu yang menjadi bagian menarik dalam festival tersebut adalah pengenalan seni bela diri tradisional Jepang, Shinkendo, serta seni panahan tradisional Jepang, Kyudo.

Dalam sesi wawancara, Wiliam Adriano, M.B.A., Shibucho yang mengurus Shinkendo se-Indonesia, menjelaskan bahwa Shinkendo di Indonesia telah berkembang sejak 2017.

Menurutnya, Shinkendo bukan sekadar seni bela diri yang berorientasi pada pertandingan atau perolehan poin. Di dalamnya terdapat nilai filosofi yang menekankan kedisiplinan, konsentrasi, pengendalian diri dan kemampuan untuk menahan diri dalam menggunakan kemampuan bela diri.

“Shinkendo ini bukan bela diri yang mengejar poin. Ada nilai filosofinya, termasuk bagaimana seseorang memahami dan mampu menahan diri dalam menggunakan kemampuan bela diri,” jelasnya, (20/9/2026).

Dalam pembelajarannya, Shinkendo juga memiliki keterkaitan dengan guru yang berada di kawasan BSD. Para murid yang mengikuti latihan rata-rata berusia 16 tahun ke atas, dengan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pemahaman terhadap filosofi bela diri.

Pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pemahaman terhadap filosofi bela diri, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, (20/9/2026).

Beberapa teknik yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut antara lain Suburi, Battoho, Tanrengata, Tachiuchi hingga Tameshigiri.

Sejumlah anggota Shinkendo turut hadir dalam Festival Budaya Asia 2026, di antaranya Aldy Pratama, S.Si. dan Sri Diani Pratiwi.

Selain Shinkendo, festival juga memperkenalkan Kyudo melalui komunitas Momiji Kai Kyudojo. Seni panahan tradisional Jepang tersebut turut menjadi sarana untuk mengenalkan budaya dan filosofi Jepang kepada masyarakat.

Kegiatan Kyudo dihadiri Satriyady Martin Laudimaris, S.T., M.B.A., M.P.A., bersama Yasmin Savitri dan Abdul Rosyid.

Dalam sesi wawancara, disampaikan bahwa kegiatan panahan tersebut telah dilakukan sejak 2021. Berbagai perlengkapan Kyudo diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk penanda Honza dan Shai yang digunakan untuk membantu positioning dalam latihan.

Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mendapatkan kesempatan mencoba secara langsung gerakan dasar dengan perlengkapan yang disediakan. Salah satu aktivitas yang diperagakan adalah penggunaan samurai berbahan kayu untuk membelah kertas.

Pengalaman tersebut juga dilengkapi dengan pemberian cinderamata bagi pengunjung yang mengikuti sesi pengenalan, seperti stiker, gantungan kunci dan tas. Kehadiran cinderamata tersebut menjadi bagian dari pengalaman budaya sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur budaya dapat dikembangkan menjadi produk kreatif.

Menurut Wiliam, Asia memiliki kekayaan yang sangat besar dalam seni bela diri. Setiap tradisi memiliki sejarah, karakter dan filosofi masing-masing yang dapat diperkenalkan melalui kegiatan lintas budaya.

“Kita berkolaborasi dengan event ekonomi kreatif. Ini merupakan pertemuan budaya Asia, dan untuk konsep seperti ini menjadi yang pertama kali,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif untuk menghasilkan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan budaya dan seni bela diri.

Berbagai kebutuhan seperti pakaian, seragam, perangkat latihan hingga properti pendukung dinilai tidak selalu harus didatangkan atau diimpor dari Jepang.

“Barang-barang yang kita gunakan tidak harus selalu impor dari Jepang. Ada seragam, perlengkapan, properti dan kebutuhan lainnya yang bisa dibuat oleh pengrajin di sini,” ungkapnya.

Hal tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif. Pengetahuan mengenai budaya dan seni bela diri dapat berjalan beriringan dengan kemampuan produksi lokal.

Festival budaya Asia menjadi tempat untuk memperkenalkan tradisi serta menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, (20/9/2026).

Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan tradisi, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk melihat kebutuhan baru yang dapat diproduksi di dalam negeri.

Kehadiran Shinkendo dan Kyudo memberikan warna tersendiri dalam Festival Budaya Asia 2026. Masyarakat tidak hanya melihat seni bela diri sebagai pertunjukan, tetapi juga dapat memahami nilai filosofi, disiplin dan pengendalian diri yang terkandung di dalamnya.

Festival tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa budaya dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif. Pertemuan antara komunitas budaya, pendidikan, olahraga tradisional, pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal keberagaman budaya Asia secara lebih dekat. Nilai kedisiplinan, ketelitian, konsentrasi, pengendalian diri dan penghormatan terhadap tradisi menjadi bagian dari pengalaman yang diperoleh dalam kegiatan tersebut.

Festival Budaya Asia 2026 pada akhirnya menjadi ruang pertemuan budaya Asia yang memadukan tradisi, pendidikan, seni bela diri dan ekonomi kreatif.

Selain memperkenalkan kebudayaan Jepang melalui Shinkendo dan Kyudo, kegiatan tersebut juga membuka gagasan bahwa berbagai kebutuhan pendukung kebudayaan dapat dikembangkan oleh pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif lokal, sehingga kolaborasi budaya sekaligus dapat memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan produksi dalam negeri.


Reportase : Asri Mulyani 

Jurnalis : Virgi Ali 

Editor : Raden William

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close