Aktual

RUBRIK SASTRA CIMAHI AKTUAL Sunyi yang Jarang Terpilih: Saat Manusia Takut Bertemu Dirinya Sendiri

Ilustrasi, Sunyi Yang Jarang Terpilih, Cimahi Aktual, (6/8/2026).

Cimahi Aktual — Barangkali manusia tidak pernah benar-benar takut pada kesunyian.

Yang ditakutinya adalah apa yang mungkin ditemukan ketika semua suara telah pergi.

Sebab selama masih ada keramaian, manusia dapat bersembunyi.

Di balik tawa.
Di balik percakapan.
Di balik nama.
Di balik kesibukan.
Bahkan di balik topeng yang dipakainya setiap hari.

Namun ketika sunyi datang, tempat persembunyian itu perlahan runtuh.

Puisi “Sunyi yang Jarang Terpilih” karya Widya Melani bergerak dari ruang sederhana menuju pertanyaan yang jauh lebih dalam: mengapa sesuatu yang tidak pernah memaksa untuk dipilih justru menjadi sesuatu yang paling ditakuti?

Sunyi dalam puisi ini bukan ketiadaan.

Ia justru menjadi saksi.

Ia mengendap di sudut ruang yang jarang disinggahi, membawa debu dan sisa waktu. Sebuah gambaran yang terasa muram, tetapi sekaligus manusiawi.

Ada hal-hal dalam hidup yang memang seperti itu.

Tidak hilang.

Hanya ditinggalkan.

Kenangan yang tidak lagi dibicarakan.
Perasaan yang sengaja dikubur.
Nama yang tidak lagi disebut.
Luka yang dianggap selesai hanya karena tidak lagi ditangisi.

Semuanya mengendap.

Dan sunyi menjadi tempat mereka tinggal.

Ketika Keramaian Menjadi Pelarian

Salah satu kekuatan puisi ini muncul ketika penyair mempertemukan dua dunia: ramai dan sunyi.

“Ramai
selalu sibuk
menghafal nama.”

Ada kritik halus di sana.

Keramaian sering kali hanya mengenal apa yang tampak.

Ia menghafal nama orang-orang yang bersinar, yang hadir, yang terdengar, yang mendapatkan perhatian.

Tetapi siapa yang menghafal mereka yang memilih diam?

Siapa yang mengingat seseorang yang tidak pernah meminta diperhatikan?

Siapa yang bertanya kepada mereka yang selalu berkata, “Aku baik-baik saja”?

Di sinilah judul puisi menjadi semakin kuat.

“Sunyi yang Jarang Terpilih.”

Sunyi bukan tidak memiliki tempat.

Ia hanya jarang dipilih.

Manusia lebih senang memilih riuh daripada hening, sebab riuh memberikan ilusi bahwa hidup sedang berlangsung.

Padahal terkadang, justru dalam heninglah seseorang benar-benar menyadari bahwa ia sedang hidup.

Sunyi Tahu Sebelum Pintu Dibuka

Bait:

“Tapi sunyi
mengenali langkah
yang datang
sebelum pintu
sempat diketuk.”

menjadi salah satu bagian paling menarik secara metaforis.

Sunyi seolah memiliki kemampuan membaca sesuatu sebelum manusia mengakuinya.

Ia tahu siapa yang datang.

Ia tahu apa yang akan mengetuk.

Ia tahu kegelisahan yang bahkan belum sempat menjadi kalimat.

Bukankah kehidupan juga sering seperti itu?

Hati terkadang tahu lebih dahulu daripada pikiran.

Kita sering merasakan seseorang akan pergi sebelum ia benar-benar mengucapkan selamat tinggal.

Kita sering merasakan sesuatu akan berubah sebelum perubahan itu memiliki nama.

Dan kita sering tahu bahwa sebuah hubungan telah selesai, jauh sebelum keberanian untuk mengatakannya muncul.

Sunyi mengetahui semuanya.

Karena sunyi tidak terganggu oleh kebisingan.

Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab Keramaian

Kemudian puisi ini berbalik kepada manusia:

“Mengapa
justru paling takut
padanya?”

Pertanyaan tersebut menjadi pusat gravitasi puisi.

Mengapa takut kepada sunyi?

Karena di dalam sunyi tidak ada yang bisa disalahkan.

Tidak ada keramaian untuk dijadikan alasan.

Tidak ada orang lain untuk dijadikan tempat pelarian.

Yang ada hanya diri sendiri.

Dan mungkin itulah bentuk kesepian yang paling menakutkan:

bukan ketika tidak ada seorang pun di sekitar kita, tetapi ketika kita tidak lagi mampu melarikan diri dari diri sendiri.

Ketika Topeng Kehilangan Penonton

Namun seluruh perjalanan puisi ini akhirnya bermuara pada tiga baris:

“hanya di dalam hening itu,

topeng
tak lagi
punya penonton.”

Inilah bagian yang paling menusuk.

Sebab topeng membutuhkan penonton.

Ia membutuhkan seseorang untuk percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Topeng membutuhkan panggung.

Membutuhkan keramaian.

Membutuhkan mata orang lain.

Tetapi sunyi mematikan panggung itu.

Tidak ada lagi yang perlu dibuat terkesan.

Tidak ada lagi yang perlu diyakinkan.

Tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura.

Maka, yang tersisa adalah wajah asli.

Dan mungkin manusia bukan takut kehilangan keramaian.

Manusia takut ketika tidak lagi memiliki penonton untuk menyaksikan kebohongannya sendiri.

Puisi Widya Melani menjadi menarik karena ia tidak berteriak untuk menyampaikan kegelisahan.

Ia memilih berbisik.

Dan justru bisikan itu yang membuatnya terasa lebih dekat.

Puisi ini seperti sebuah ruangan yang lampunya dimatikan perlahan. Semakin gelap, semakin jelas suara dari dalam diri sendiri.

Pada akhirnya, Sunyi yang Jarang Terpilih bukan sekadar puisi mengenai kesendirian.

Ia berbicara tentang penerimaan.

Tentang manusia yang mungkin terlalu lama mengejar pengakuan dari luar, sampai lupa bahwa ada satu pengakuan yang jauh lebih sulit diperoleh:

pengakuan dari diri sendiri.

Barangkali sunyi memang jarang dipilih.

Tetapi setiap manusia, cepat atau lambat, akan bertemu dengannya.

Dan ketika hari itu tiba, kita tidak lagi bisa bertanya kepada siapa pun.

Kita hanya akan berhadapan dengan satu pertanyaan paling tua dalam diri manusia:

“Siapa aku ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”


PUISI

Sunyi yang Jarang Terpilih

Sunyi
tak pernah meminta dipilih.

Ia mengendap
di sudut ruang
yang jarang disinggahi,

menyimpan debu
dan sisa waktu.

Ramai
selalu sibuk
menghafal nama.

Tapi sunyi
mengenali langkah
yang datang
sebelum pintu
sempat diketuk.

Lalu,

Mengapa
justru paling takut
padanya?

Padahal,

hanya di dalam hening itu,

topeng
tak lagi
punya penonton.

Widya Melani
Bandung, 09 Juli 2026


CIMAHI AKTUAL

Ketika yang tak terdengar, justru menyimpan suara paling dalam.

Editor : Virgi Ali

Publikasi Digital : Raden William 
Rubrik Sastra Cimahi Aktual

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close