
Cimahi, Cimahi Aktual — Pertunjukan seni inklusif bertajuk “Rumah Impian” kembali menghadirkan pengalaman emosional dan reflektif bagi penonton dalam rangkaian HATEDU 2026. Karya ini bukan hanya sebuah pertunjukan panggung, melainkan ruang perjumpaan manusia yang menegaskan bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada suara, tetapi juga pada rasa, gerak, dan kehadiran.
Gagasan “Rumah Impian” lahir dari sutradara Hani Rahmayanti, S.Pd bersama komunitas Panangan Suminar. Konsep ini mengangkat nilai keberagaman dalam satu ruang kehidupan, di mana setiap individu diposisikan setara dalam ekspresi dan pengalaman artistik. Panggung dipahami sebagai “rumah” yang menampung perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Produksi ini melibatkan sekitar 90% aktor tuli, (11/4/2026), dengan dukungan penuh dari Masteci dalam proses musikal serta komunikasi selama latihan. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan dalam berkesenian, melainkan pintu untuk menemukan bentuk ekspresi yang lebih jujur, dalam, dan menyentuh.
Saat pertunjukan berlangsung, penonton disuguhkan pengalaman yang berbeda dari pementasan pada umumnya. Tanpa dominasi dialog verbal, cerita dibangun melalui bahasa isyarat, ekspresi tubuh, tata visual, dan ritme panggung yang kuat. Banyak penonton mengaku terharu, bahkan larut dalam emosi yang sulit dijelaskan, ketika menyaksikan bagaimana para pemain menyampaikan kisah dengan intensitas yang tulus.
“Rumah Impian” juga menegaskan bahwa seni dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai latar belakang, kemampuan, dan cara berkomunikasi. Kehangatan yang tercipta di atas panggung menjadi simbol penerimaan dan kebersamaan di tengah keberagaman.
Selain pertunjukan utama, turut hadir ruang “Karya Seni Tuli”, sebuah wadah kreatif bagi teman-teman tuli untuk berkarya, beradvokasi, serta mengembangkan produk kriya seni dan aksesori UMKM. Kehadiran ruang ini memperkuat dimensi pemberdayaan ekonomi sekaligus memperluas partisipasi komunitas disabilitas dalam ekosistem seni dan kreatif.
Dalam sesi kegiatan dan wawancara, Refina Nuraini Ultari, S.Pd bersama Asiah, Ica, dan Ael menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang belajar, kolaborasi, sekaligus pengembangan usaha kreatif. Mereka menegaskan bahwa meski dilakukan dengan keterbatasan sumber daya, semangat untuk berkarya tetap tumbuh secara mandiri, inspiratif, dan konsisten.
Dukungan terhadap ekosistem seni inklusif juga datang dari Pemerintah Kota Cimahi (Pemkot Cimahi) yang mendorong pengembangan ruang kreatif bagi komunitas disabilitas. Namun demikian, hingga saat ini implementasi kebijakan yang secara spesifik menyasar seni inklusif masih dinilai belum maksimal.
Sementara itu, Komisi IV DPRD Kota Cimahi menyebut bahwa program penguatan seni inklusif masih berada pada tahap wacana dan pembahasan awal. Kondisi ini menjadi catatan penting karena belum terdapat kebijakan teknis yang benar-benar terstruktur dan berkelanjutan untuk mendukung ekosistem seni inklusif di tingkat daerah. Akibatnya, komunitas masih banyak bergerak secara mandiri dalam produksi karya, pelatihan, hingga pengembangan ruang kreatif.
Meski demikian, harapan tetap terbuka agar pemerintah daerah dan DPRD dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor, sehingga seni inklusif tidak hanya menjadi gagasan, tetapi hadir sebagai kebijakan nyata yang berdampak langsung bagi komunitas disabilitas.
Dalam peliputan kegiatan ini, jurnalis Virgi Ali dan Eel, bersama dukungan Pusbisindo, serta penerjemah Kang Ridzwan dari Kota Bandung turut memastikan proses komunikasi inklusif berjalan dengan baik di lapangan.
Pada akhirnya, “Rumah Impian” menjadi pengingat bahwa seni bukan sekadar pertunjukan, tetapi ruang kemanusiaan—tempat di mana perbedaan tidak dihapus, melainkan dirayakan sebagai kekuatan bersama.
Reportase : Eel
Jurnalis : Virgi Ali



0 Komentar