Cimahi, Cimahi Aktual — Masyarakat Teater Cimahi (Masteci) menghadirkan karya teater eksperimental bertajuk “The King of Blue” dalam sesi gladi resik di GOR Sangkuriang (10/4/2026). Kegiatan ini menjadi tahap penting dalam persiapan menuju pementasan, menampilkan kesiapan artistik, teknis, serta kedalaman emosi para pemain dalam menghidupkan dunia fantasi yang penuh simbol dan makna.
Kisah “The King of Blue” berangkat dari dunia imajinatif tentang makhluk Clitoria yang terinspirasi dari bunga telang (Clitoria ternatea). Mereka hidup damai di hutan biru yang murni, menjaga jantung bunga besar sebagai sumber kehidupan. Konflik muncul ketika Durga, sosok gelap yang lahir dari sari pohon mati, berusaha menghancurkan keseimbangan tersebut.
Cerita berkembang dengan hadirnya Leo, Clitoria yang terbuang sejak kecil dan kemudian dimanfaatkan oleh Durga sebagai alat kekuatan. Dalam klimaks cerita, terungkap bahwa Leo adalah anak dari Raja Brahman. Dihadapkan pada pilihan sulit, Leo memilih untuk mengendalikan dirinya dan berpihak pada kebaikan, membantu Brahman mengalahkan Durga. Sebagai bentuk penghargaan, Brahman menyerahkan tahtanya kepada Leo sebagai simbol kepemimpinan sejati yang berlandaskan ketenangan dan kedamaian.
Pertunjukan ini mengusung konsep teater eksperimental dengan pendekatan surealis dan visual fantasi. Unsur musik, tari, dan akting dipadukan dalam visualisasi abstrak yang memperkuat pesan emosional. Alur cerita disusun secara progresif, membawa penonton dari pengenalan hingga penyelesaian konflik secara utuh.
Unsur musik, tari, dan akting dipadukan dalam visualisasi, Hatedu, Gor Sangkuriang Cimahi, Jawa Barat (10/4/2026).
Dalam sesi wawancara, Yeki Maulana menegaskan bahwa karya ini mengangkat isu keseimbangan ekosistem dan hubungan manusia dengan alam. Jantung bunga besar menjadi simbol sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Sementara itu, Donna selaku asisten sutradara menambahkan bahwa dunia Clitoria mencerminkan harmoni yang rapuh dan pentingnya menjaga keseimbangan.
Salah satu peran penting dalam pertunjukan ini dibawakan oleh aktor Ayuni yang memerankan Haila, istri Raja Brahman. Karakter Haila digambarkan sebagai sosok pendukung, penguat, sekaligus penenang bagi Brahman di tengah konflik batin yang ia alami, terutama rasa bersalah atas kehilangan anaknya, Leo. Peran ini memberikan dimensi emosional yang kuat dalam cerita, memperlihatkan sisi kemanusiaan seorang pemimpin.
Dari sisi artistik, komposisi musik dalam pertunjukan ini dirancang menyatu dengan dialog dan suasana adegan, menciptakan pengalaman yang imersif bagi penonton. Karakter Durga menjadi simbol kehancuran, sementara Leo merepresentasikan kekuatan dalam mengendalikan diri dan memimpin dengan bijaksana.
Sutradara, Hani Rahmayanti, S.Pd dari komunitas Panangan Suminar, Kel.Padasuka, Kota Cimahi, Jawa Barat (10/4/2026).
SEGMENT KHUSUS: TEATER INKLUSIF – “RUMAH IMPIAN”
Dalam rangkaian proses kreatif ini, turut dihadirkan semangat inklusivitas melalui gagasan dari sutradara Hani Rahmayanti, S.Pd dari komunitas Panangan Suminar. Ia memperkenalkan konsep “Rumah Impian”, yang mengangkat nilai keberagaman dalam satu ruang kehidupan.
Produksi ini melibatkan sekitar 90% aktor tuli, dengan dukungan penuh dari tim Masteci dalam proses musikal dan komunikasi selama latihan. Karya ini menekankan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang dalam berkesenian, melainkan ruang untuk menemukan bentuk komunikasi yang lebih dalam.
“Rumah Impian” bukan sekadar tentang kehadiran fisik dalam satu ruang, tetapi tentang bagaimana kehangatan dan komunikasi dapat terbangun di tengah perbedaan. Pesan ini menjadi refleksi bahwa seni mampu menjembatani berbagai latar belakang, termasuk dalam konteks inklusivitas.
Reportase : Eel
Jurnalis : Virgi Ali



0 Komentar