Aktual

RUBRIK SASTRA CIMAHI AKTUAL “KERESAHAN BURUNG PIPIT”


KERESAHAN BURUNG PIPIT

Karya: Lin Karliana

PUISI

Seribu tanya berputar bersama cericit burung Pipit

“Wahai burung Pipit,

mengapa kau bersedih di hutan belantara ini?”

“Aku hanya seekor burung kecil yang penakut.

Aku tak mampu terbang tinggi.

Aku tak mampu membuat sangkar yang besar.

Karena aku hanya seekor burung Pipit

yang tak berani terbang

di tengah ilalang liar.”

ULASAN SASTRA

Ketika Seekor Pipit Menjadi Cermin Keresahan

Puisi “Keresahan Burung Pipit” karya Lin Karliana menghadirkan sosok burung pipit sebagai simbol sederhana tentang rasa takut dan keterbatasan.

Dengan bahasa yang relatif sederhana, penyair membawa pembaca memasuki suasana batin seekor burung kecil yang merasa dirinya tidak cukup kuat untuk terbang tinggi.

Burung pipit dalam puisi ini dapat dibaca sebagai gambaran manusia yang sering merasa kecil ketika berhadapan dengan dunia yang lebih luas.

Kalimat “Aku tak mampu terbang tinggi” menjadi titik penting. Ia bukan hanya menggambarkan ketidakmampuan seekor burung, tetapi juga dapat dimaknai sebagai suara seseorang yang sedang meragukan kemampuan dirinya sendiri.

Sementara hutan belantara dan ilalang liar menjadi ruang simbolik tempat keresahan itu tumbuh. Dunia terasa luas, sementara dirinya merasa begitu kecil.

Menariknya, penyair tidak memilih burung yang gagah seperti elang atau rajawali. Ia justru memilih burung pipit—makhluk kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pilihan tersebut membuat puisinya terasa lebih manusiawi.

Sebab dalam kehidupan, tidak semua orang berani terbang tinggi. Ada yang masih berjuang keluar dari rasa takut, ada yang masih mencari keberanian, dan ada pula yang memilih bertahan di tempatnya karena belum menemukan keyakinan untuk mengepakkan sayap.

Pada akhirnya, puisi ini mengajak pembaca melihat bahwa rasa takut bukan selalu tanda kelemahan.

Bisa jadi, di balik seekor pipit yang belum berani terbang tinggi, sedang tumbuh keberanian yang suatu hari akan menemukan langitnya sendiri.

Catatan Redaksi

Rubrik Sastra Cimahi Aktual menjadi ruang apresiasi bagi para sastrawan dan sastrawati untuk menghadirkan karya, gagasan, keresahan, serta imajinasi melalui bahasa sastra.

Karena kami percaya:

Karya yang lahir dari rasa, akan menemukan jalannya menuju pembaca.

Cimahi Aktual

Ruang Kata. Ruang Rasa. Ruang Karya.

Editor : Virgi Ali 

Publikasi Digital : Raden William

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close