Cimahi, Cimahi Aktual – Aliran Kepercayaan Kebatinan (AKP) Perjalanan Kota Cimahi kembali menyelenggarakan kegiatan spiritual rutin sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis atau Malam Jum’at Kliwon, 7 April 2026, yang bertepatan dengan 21 Hayasta 1995 Sukra dalam penanggalan AKP Perjalanan. Bertempat di Gedung Pasewakan Runtut Raut Sauyunan, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, Kota Cimahi, kegiatan ini diikuti oleh warga Perjalanan yang secara konsisten berkumpul setiap 36 hari.
Mengangkat tema sesajen “Sastra Jendra (Wujud), Rahayu (Selamat), Ningrat (Materi yang Berkualitas)”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi spiritual yang sarat nilai budaya dan filosofi kehidupan. Sesajen yang disajikan tidak sekadar simbol, tetapi mengandung makna mendalam tentang keseimbangan hidup manusia. Kehadiran bubur merah dan bubur putih, misalnya, melambangkan harmoni antara lahir dan batin, serta keseimbangan antara niat dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam petuahnya, Abah Mimin Sukandar menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kehidupan dengan penuh kesadaran. Ia mengajak seluruh warga untuk senantiasa menghormati karuhun (leluhur) dan jasa para pendahulu sebagai bagian dari jati diri dan akar budaya bangsa.
“Gusti Yang Maha Suci menitipkan manusia melalui ayah dan ibu dengan sifat welas asih. Maka manusia harus hidup dengan kasih sayang, menjaga hubungan antar sesama, serta menghargai setiap peran dalam kehidupan,” ungkapnya.
Sesajen yang disajikan tidak sekadar simbol, tetapi mengandung makna mendalam tentang keseimbangan hidup manusia, AKP Kota Cimahi (7/5/2026).Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi. Apa yang ditanam dalam kehidupan akan kembali kepada diri masing-masing. Kebaikan akan berbuah kebaikan, begitu pula sebaliknya. Dalam pandangannya, kesadaran menjadi kunci utama yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Oleh karena itu, warga Perjalanan diharapkan mampu menjaga kesadaran dalam setiap langkah hidupnya.
Ritual pembakaran menyan yang dilakukan dalam kegiatan ini menjadi simbol penghubung antara manusia dengan leluhur dan Sang Pencipta. Nilai spiritual yang terkandung di dalamnya mengajarkan penghormatan kepada asal-usul kehidupan serta rasa syukur yang mendalam. Setiap unsur dalam sesajen diyakini memiliki “rasa”, sebagaimana makanan memiliki rasa, sesajen memiliki makna, dan hati manusia memiliki kepekaan untuk merasakan nilai-nilai tersebut.
Didampingi oleh Abah Wiwi Witana, kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan. Tidak hanya sebagai ritual spiritual, pertemuan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antar warga, memperkuat nilai gotong royong, serta menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan.
Sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam membangun kemanusiaan yang adil dan beradab serta memperkokoh persatuan Indonesia, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dan spiritualitas dapat berjalan selaras dengan semangat nasionalisme. AKP Perjalanan Kota Cimahi terus berkomitmen menjaga warisan budaya leluhur, memperkuat kesadaran spiritual, serta membangun harmoni antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Eel

0 Komentar