Aktual

Seni Durcing, Jejak Spiritual dan Identitas Asli Kota Cimahi

Seni Durcing semakin menegaskan posisinya sebagai identitas budaya Kota Cimahi, Jawa Barat (14/2/2026).

 Cimahi, Cimahi Aktual— Seni Durcing semakin menegaskan posisinya sebagai identitas budaya yang tumbuh dari akar spiritual dan kearifan lokal masyarakat Cimahi. Pada tahun 2026, Seni Durcing ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), menjadi kebanggaan sekaligus peneguhan jati diri daerah di tengah perkembangan zaman.

Durcing merupakan akronim dari Dzhuhur Cicing, berangkat dari makna ibadah shalat Dzuhur sebagai penanda waktu sekaligus refleksi spiritual. Dari nilai religius tersebut lahir kesenian yang memadukan unsur musik tradisional, vokal, dan pesan moral. Seni Durcing bukan sekadar hiburan, tetapi sarana menyampaikan nasihat kehidupan melalui bahasa dan budaya Sunda.

Durcing merupakan seni buhun yang kaya unsur tradisi, Ciawitali, Cimahi Utara (14/2/2026).

Pengurus Seni Durcing, Eva Sugianti, menyampaikan bahwa pengakuan sebagai WBTB 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat.

 “Ini adalah kebanggaan bagi Kota Cimahi. Seni Durcing adalah identitas asli yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya dalam sesi wawancara (14/2/2026).

Durcing Karuhun Reborn, Kota Cimahi , Jawa Barat (14/2/2026).

Ketua Padepokan Seni Durcing, Furbani Yusuf, menjelaskan bahwa Durcing merupakan seni buhun yang kaya unsur tradisi. Instrumen yang digunakan meliputi kendang, indung kendang, bonang, dan gong, dipadukan dengan vokal ngawih serta lirik berbahasa Sunda. Setiap pertunjukan sarat nilai filosofis dan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sosial.

Latihan rutin dilaksanakan di Aula RW 09, Jalan Ciawitali Gang Haji Ashari, Cimahi Utara. Melalui semangat “Durcing Karuhun Reborn”, Lingkung Seni Ciawitali menjadi ruang bertemunya lintas generasi untuk berlatih dan melestarikan warisan leluhur. Regenerasi menjadi kunci agar seni ini tidak berhenti pada satu generasi saja.

menjadi simbol kekuatan tradisi di tengah modernitas, Kang Uber, Ciawitali , Kota Cimahi , Jawa Barat (14/2/2026).

Seniman Cimahi Durcing yang dikenal sebagai Kang Uber menambahkan bahwa Seni Durcing juga berkolaborasi dengan seni tradisional lain seperti Barong Sae, Kuda Lumping, pencak silat, hingga kaulinan barudak. 

“Durcing bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan yang mengandung nilai kehidupan,” ungkapnya.

Terkait dukungan pemerintah, para pelaku seni berharap perhatian dari Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) tidak berhenti pada seremoni atau agenda simbolis semata. Pembinaan yang berkelanjutan, fasilitasi ruang kreatif, dukungan anggaran yang konsisten, serta program regenerasi yang terstruktur dinilai sangat penting agar pelestarian benar-benar berjalan jangka panjang. Seni tradisi membutuhkan kesinambungan, bukan hanya panggung sesaat.

Dengan pengakuan sebagai WBTB 2026, Seni Durcing tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata budaya. Dari Ciawitali, nilai spiritual dan identitas budaya Cimahi terus hidup, diwariskan lintas generasi, dan menjadi simbol kekuatan tradisi di tengah modernitas.


Reportase : Virgi Ali 

Jurnalis : Virgi Ali
Creative Video : Virgi Ali, Raden William 

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close