![]() |
| Ma’rifatullah |
Bandung, Cimahi Aktual – Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat satu ilmu yang menempati posisi paling tinggi, paling puncak, dan wajib dipelajari oleh setiap manusia, khususnya seorang Muslim. Ilmu tersebut adalah Ilmu Ma’rifat, atau Ma’rifatullah, yaitu ilmu untuk mengenal Diri Allah Yang Maha Esa.
Menurut Ustadz Abdul Choliq (UAC), ilmu Ma’rifatullah bukan sekadar pengetahuan tentang nama Tuhan, melainkan pengenalan hakiki terhadap eksistensi Dzat Allah. Sebab kepada-Nya manusia berasal dan kepada-Nya pula manusia akan kembali. Jika kematian seorang hamba diterima dengan ridha oleh Allah, maka itulah kematian yang selamat, mati husnul khotimah, yang mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan keabadian di sisi Tuhannya.
Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang beriman saat menjelang pertemuan dengan-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 22–23:
“Wajah-wajah (orang beriman) pada hari itu berseri-seri,
memandang kepada Tuhannya.”
Namun, Ustadz Abdul Choliq mengingatkan bahwa mati husnul khotimah memiliki pintu. Jika manusia tidak mengenal pintu tersebut, maka saat kematian ia akan terhijab dari Tuhannya, terpental dari rahmat dan kasih sayang Allah, hingga berakhir pada mati su’ul khotimah (na’udzubillah).
Pintu menuju mati yang selamat itu, lanjutnya, adalah ilmu Ma’rifatullah, yaitu ilmu mengenal Allah dari sisi Dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, serta seluruh wujud ciptaan-Nya. Ilmu ini bersifat fardhu ‘ain, wajib dipelajari dan didahulukan sebelum ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Dalam banyak pesantren dikenal ungkapan:
“Awwaluddin ma’rifatullah bistiiqon” – awal agama adalah mengenal Allah dengan penuh keyakinan. Hal ini sejalan dengan penjelasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah:
“Awwaluddin ma’rifatuhuu” – awal dari agama adalah mengenal Allah.
Menurut UAC, bagaimana mungkin seseorang dapat menyembah, berdzikir, dan shalat dengan benar, sementara tujuan ibadah adalah “lidzikrii” (untuk mengingat Aku), namun ia tidak mengenal Dzat Allah yang menjadi tujuan ibadah tersebut. Jika Allah tidak dikenal, lalu kepada siapa sesungguhnya ibadah itu ditujukan?
Ia menjelaskan bahwa hakikat manusia sejatinya tidak terpisah dari Tuhannya. Di alam Dzar, manusia berada dalam keadaan fitrah yang tinggi, dalam Nur Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 172. Ma’rifatullah adalah terbukanya mata batin, hidupnya hati, roh, sirr, dan Nur insaniah yang disingkapkan langsung oleh Allah, Faatihul Ghuyub.
Allah pun memerintahkan manusia untuk bertanya kepada ahlinya, sebagaimana firman-Nya:
“Fas’alu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun” – bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui.
Ustadz Abdul Choliq menegaskan bahwa syahadat adalah kesaksian. Kesaksian hanya sah jika dilandasi dengan “melihat”, bukan sekadar dugaan atau sangkaan. Para nabi dan rasul tidak menyembah Allah kecuali dengan kesaksian batin, melihat dengan mata hati (bashirah), roh dengan Nurnya, dan sirr dalam Nur Muhammad.
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa Ma’rifatullah bukan sekadar konsep tasawuf, melainkan fondasi utama dalam keberagamaan, agar manusia mengenal Tuhannya sebelum kembali kepada-Nya.
(Bersambung)
Bandung, Jumat 6 Februari 2026
Salam takzim
Penulis: UAC (Ustadz Abdul Choliq)

0 Komentar