Aktual

Reog Sunda Geboy Parahyangan dan Semangat Emak-Emak Pegiat Budaya

Kelompok Geboy Parahyangan , Cimahi Utara (25/1/2026).

 Cimahi, Cimahi Aktual—Di tengah arus modernisasi dan kehidupan perkotaan yang semakin dinamis, denyut budaya Sunda masih terasa hidup di Kota Cimahi. Hal ini tampak dari proses latihan Reog Sunda Geboy Parahyangan yang bertempat di Cipanawar RT 01 RW 09, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, dengan suasana hangat, penuh canda, dan kebersamaan (25/1/2026).

Reog Sunda merupakan kesenian rakyat khas Jawa Barat yang berbeda dengan Reog Ponorogo. Tanpa topeng merak raksasa, Reog Sunda lebih menonjolkan unsur lawakan, kritik sosial, musik ritmis, serta tarian energik yang membumi dan dekat dengan realitas masyarakat. Kesenian ini kerap hadir dalam acara adat dan hiburan rakyat, namun kini semakin terpinggirkan meski masih terus diupayakan pelestariannya oleh komunitas budaya.

Proses latihan dilakukan secara rutin dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, Kota Cimahi (25/1/2026).

Kelompok Geboy Parahyangan berasal dari Kota Cimahi dan digawangi oleh emak-emak pegiat budaya yang dengan penuh dedikasi menjaga kesenian tradisi agar tetap hidup. Adapun para personilnya adalah Cucu, Watini, Rukmini, Ade, Eem, Titi, dan Yuyun.

Proses latihan dilakukan secara rutin dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Dengan iringan alat musik tradisional seperti dogdog berbagai ukuran dan kecrek (tamborin), para pemain berlatih pola tabuhan, kekompakan gerak tari, serta penguatan ekspresi lawak yang menjadi ciri khas Reog Sunda. Tawa, semangat, dan saling menyemangati menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap sesi latihan.

Pembina Reog Sunda, Lin Karliana, S.Pd, dan H. Yudhi Suherli, memberikan Instruksi kepada Musisi Reog, Cipageran, Kota Cimahi (25/1/2026).

Tak hanya membawakan repertoar tradisi, Reog Sunda Geboy Parahyangan juga menyiapkan karya lagu ciptaan sendiri yang mengangkat kondisi Kota Cimahi saat ini—tentang kehidupan masyarakat perkotaan, nilai budaya Sunda, serta realitas kota yang multikultural dan terus bertumbuh.

Latihan tersebut merupakan bagian dari persiapan penampilan dalam ajang Cimahi Street Musik (CSM) yang akan digelar di Alun-Alun Kota Cimahi pada 7 Februari 2026 mendatang.

Pembina Reog Sunda, Lin Karliana, S.Pd, menekankan bahwa kesenian rakyat memiliki peran penting sebagai media pendidikan sosial.

“Reog Sunda bukan sekadar tontonan, tapi sarana menyampaikan pesan. Di dalamnya ada humor, kritik sosial, dan nilai keagamaan yang disampaikan dengan cara ringan dan mudah diterima masyarakat,” ujar Lin Karliana.

Sementara itu, H. Yudhi Suherli, selaku pengasuh Reog Sunda sekaligus Pimpinan Cimahi Aktual dan Cimahi Aktual Media, menyebut semangat para emak-emak pegiat budaya sebagai kekuatan utama pelestarian tradisi.

“Dari proses latihan yang sederhana namun penuh semangat ini, kita bisa melihat wajah Cimahi yang hangat, kreatif, dan berakar kuat pada budaya lokal. Inilah energi budaya rakyat yang harus terus kita dukung,” ungkap Yudhi Suherli.

Melalui konsistensi latihan dan semangat kebersamaan, Reog Sunda Geboy Parahyangan terus hadir sebagai hiburan rakyat, sarana kritik sosial, dan perekat nilai kebudayaan di tengah kehidupan masyarakat Kota Cimahi yang majemuk.


Reportase : Eel 
Jurnalis : Virgi Ali
Creative Video : Eel, Virgi Ali 
Voice Over : Eel 

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close