Cimahi Aktual — Rubrik Sastra
Ada puisi yang hadir seperti suara keras.
Namun ada pula puisi yang datang perlahan—seperti angin yang mengetuk pintu, lalu menunggu seseorang menjawab dari dalam.
“Musim Tak Pernah Tahu” adalah salah satunya.
MUSIM TAK PERNAH TAHU
Angin tak pernah mendobrak pintu
Ia hanya mengetuk,
menunggu dari dalam terdengar suara “Siapa?”
Angin hanya membawa harum kepada ia yang merasa lapar
Angin menusuk bagi ia yang merasa punya banyak musim
Angin selalu punya arah
Musimlah yang menentukan
Namun musim tak pernah tahu
Angin pun membawa amarah.
— Ayuni Larasvara
Bandung Barat, 4 Agustus 2026
Ulasan Sastra
Puisi Ayuni Larasvara bergerak melalui dua simbol utama: angin dan musim.
Angin hadir sebagai sesuatu yang lembut, tetapi tidak selalu berarti damai. Ia dapat menjadi pembawa harum bagi mereka yang sedang membutuhkan, sekaligus terasa menusuk bagi mereka yang merasa telah memiliki segalanya.
Kekuatan puisi ini terletak pada metaforanya yang sederhana namun menyimpan ruang tafsir. Kalimat “Angin selalu punya arah, musimlah yang menentukan” menjadi semacam poros pemikiran: manusia dapat memilih arah, tetapi keadaan sering kali menentukan bagaimana perjalanan itu dirasakan.
Menariknya, pada bagian akhir, angin tidak lagi sekadar menjadi simbol kelembutan.
“Angin pun membawa amarah.”
Di sanalah puisi berubah dari ketenangan menjadi kegelisahan. Ada sesuatu yang semula hanya mengetuk, tetapi ternyata membawa pesan yang lebih dalam.
Ayuni Larasvara: Seni yang Bergerak dari Banyak Arah
Ayuni Larasvara bukan hanya hadir melalui kata-kata.
Ia dikenal sebagai aktris di Teater Tiga Pilar, sekaligus seorang penari dan pencipta lagu dalam Ansamble Larasvara.
Pengalaman lintas seni tersebut terasa dalam puisinya. Ada gerak seperti tarian dalam pilihan katanya, ada ritme seperti musik dalam pengulangan kalimatnya, dan ada karakter dramatik seperti panggung teater dalam dialog kecil:
“Siapa?”
Sebuah kata sederhana, tetapi mampu membuka pintu menuju banyak kemungkinan.
Bagi Ayuni, puisi tampaknya bukan sekadar tulisan. Ia menjadi ruang lain untuk mengolah rasa, gerak, bunyi, dan pengalaman artistik.
“Musim Tak Pernah Tahu” akhirnya menjadi percakapan antara manusia, waktu, dan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan.
Sebab angin bisa datang kapan saja.
Dan musim—
tak pernah tahu apa yang dibawanya.
CIMAHI AKTUAL
Ruang Berita, Seni, Budaya dan Gagasan
Rubrik Sastra, Editor : Virgi Ali
Publikasi Digital : Raden William

0 Komentar