Cimahi Aktual — Rubrik Sastra
Puisi oleh: Ayuni Larasvara
Kodrat yang Diciptakan
Perempuan dipagari
pagar itu disebut perlindungan
Mulutnya dibungkam
lalu diamnya disebut kelembutan
Dijadikan perhiasan
dipoles untuk dipandang
dikurung untuk dimiliki
Lelaki menamainya cinta
padahal kuncinya dipegang sendiri
Menyebutnya kodrat
Seolah Tuhan pernah menitahkan
Agar satu manusia
lahir
untuk berkuasa atas lainnya
Namun sejarah selalu punya ironi
Sang penjajah pun pernah
kehilangan kuasa di hadapan sepasang
mata yang tak sudi lagi dijajah
Ayuni Larasvara, Bandung Barat, 12 Agustus 2026
Ketika “Kodrat” Masuk ke FYP
Ada puisi yang sekadar dibaca. Ada pula puisi yang membuat pembacanya berhenti, menatap layar lebih lama, kemudian bertanya kepada dirinya sendiri.
Kodrat yang Diciptakan karya Ayuni Larasvara berada di wilayah kedua.
Puisi ini berbicara tentang perempuan, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih luas: tentang kuasa, kebebasan, cinta, dan batas antara perlindungan dengan penguasaan.
Kalimat-kalimatnya seperti membuka satu per satu pagar yang selama ini dianggap biasa.
Perempuan dipagari atas nama perlindungan. Diam disebut kelembutan. Kepatuhan dianggap kodrat. Sementara cinta perlahan berubah menjadi kepemilikan.
Di zaman media sosial, persoalan tersebut menemukan wajah yang baru.
TikTok, misalnya, telah berkembang menjadi ruang tempat orang berbagi pengalaman dan membangun komunitas. Sebuah video pendek dapat memancing ribuan komentar, lalu melahirkan percakapan yang lebih luas. Pengalaman pribadi yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ruang privat bisa berubah menjadi cerita bersama.
Satu orang berbicara.
Yang lain merasa relate.
Kemudian muncul komentar, “Aku juga pernah mengalami hal yang sama.”
Dari sana, terbentuk komunitas.
Namun ruang digital juga tidak selalu menjadi tempat yang ramah. Di balik kebebasan berbicara, ada budaya judgementyang bergerak sangat cepat.
Perempuan yang bersuara lantang bisa disebut kasar. Perempuan yang mandiri dianggap terlalu bebas. Perempuan yang menentukan pilihan sendiri dipertanyakan. Bahkan dalam ruang komentar, kata “kodrat” masih kerap digunakan untuk membatasi.
Pagar yang dahulu berbentuk tembok, hari ini bisa berubah menjadi opini.
Ia bisa berupa komentar.
Bisa berupa tekanan sosial.
Bisa pula berupa standar yang terus ditampilkan algoritma hingga seseorang merasa harus memenuhi ukuran tertentu agar dianggap pantas.
Puisi Ayuni Larasvara kemudian terasa seperti sebuah pertanyaan yang dilemparkan ke tengah keramaian digital:
Siapa yang sebenarnya membuat pagar itu?
Apakah benar pagar tersebut berasal dari ketetapan yang tidak boleh dipertanyakan?
Atau jangan-jangan, sebagian pagar itu dibangun oleh manusia, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang alamiah?
Di sinilah kekuatan puisi ini.
Ia tidak sekadar menyalahkan satu pihak. Ia mengajak pembaca melihat kembali bagaimana sebuah kata dapat digunakan untuk membenarkan kuasa.
Sebab cinta seharusnya tidak membutuhkan kunci.
Perlindungan seharusnya tidak menghilangkan suara.
Dan “kodrat” tidak seharusnya menjadi alasan untuk menempatkan satu manusia lebih tinggi daripada manusia lainnya.
Menariknya, media sosial justru membuka ruang bagi suara-suara yang dahulu sulit terdengar.
TikTok dan berbagai komunitas digital memperlihatkan bagaimana sebuah pengalaman personal dapat berubah menjadi percakapan kolektif. Seseorang yang merasa sendirian dapat menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa.
Dari layar kecil, lahir keberanian.
Dari keberanian, lahir percakapan.
Dan dari percakapan, perlahan muncul kesadaran.
Karena itu, Kodrat yang Diciptakan terasa relevan dengan zaman ketika kehidupan sosial tidak hanya berlangsung di jalan, rumah, sekolah, kantor, atau panggung seni, tetapi juga di dalam layar ponsel.
Di tengah budaya scroll, like, share, dan FYP, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sebentar.
Tidak sekadar melihat apa yang sedang viral.
Tetapi melihat apa yang selama ini dianggap normal.
Sebab tidak semua yang sering diulang adalah kebenaran.
Dan tidak semua yang disebut “kodrat” harus diterima tanpa pertanyaan.
Pada akhirnya, mungkin kemerdekaan bukan hanya tentang membuka pintu yang terkunci.
Kemerdekaan juga tentang memiliki keberanian untuk bertanya:
Siapa yang memasang kunci itu sejak awal?
Dan ketika seseorang akhirnya berani mengambil kunci tersebut dari tangan yang selama ini menggenggamnya, pagar itu mungkin tidak langsung runtuh.
Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya—
ia tahu bahwa dirinya tidak dilahirkan untuk hidup di balik pagar.
— Rubrik Sastra Cimahi Aktual
Editor: Virgi Ali
Publikasi Digital: Raden William

0 Komentar