Ilustrasi, “ Pada Kelopak Mata Yang Sayu, Rindu Tak Sempat Bertemu”, Cimahi Aktual, (2/8/2026).
Cimahi Aktual — Ada perasaan yang tidak benar-benar selesai, meski perpisahan telah lama mengetuk pintu. Ia tinggal di antara air mata, pertanyaan yang tak terjawab, dan rindu yang diam-diam masih menyimpan nama.
Puisi “Pada Kelopak Mata yang Sayu” karya Ripa Yustira membawa pembaca masuk ke ruang batin tentang kehilangan, kerinduan, dan usaha untuk menerima seseorang yang perlahan menjauh.
Lewat larik-larik sederhana, penyair menghadirkan pergulatan hati: ketika seseorang masih ingin ditemui, tetapi keadaan justru memaksa untuk berhenti berharap.
Ada pertanyaan yang menggantung:
Adakah aku dalam rindu panjangmu?
Adakah atmaku tersimpan dalam mimpi indahmu?
Pertanyaan itu bukan sekadar ditujukan kepada seseorang. Ia seperti percakapan batin dengan masa lalu—tentang apakah sebuah hubungan pernah benar-benar memiliki tempat yang sama di dalam hati dua manusia.
Pada Kelopak Mata yang Sayu
Kita bukanlah satu jiwa yang sama
Kau memilih menitikan air mata dan pergi menyimpan tanya
Adakah aku dalam rindu panjangmu?
Adakah atmaku tersimpan dalam mimpi indahmu?
Kau mengetuk pintu hatiku,
Brughh!!
Kupikir ragaku terjatuh
Nyatanya, hatiku yang runtuh.
Kau tidak berpaling dari pandangan tentangku
Jiwamu yang enggan menemui
Meski lirih hati menanti.
Pada kelopak mataku yang sayu
Tabahlah,
Berhenti membiarkanmu menemuinya lagi
Meski sekali.
Bandung, 9 Desember 2025
Ripa Yustira
Puisi ini menemukan kekuatannya pada bagian akhir. “Pada kelopak mataku yang sayu” bukan lagi sekadar gambaran kesedihan, tetapi menjadi simbol seseorang yang sedang belajar mengikhlaskan.
Ada keinginan untuk bertemu, tetapi juga kesadaran bahwa tidak semua yang dirindukan harus kembali.
Di sanalah puisi ini terasa dekat: ketika hati masih berkata “tunggu”, sementara diri sendiri mulai belajar berkata “cukup”.
Cimahi Aktual — Rubrik Sastra
Merawat kata, menghidupkan rasa, dan memberi ruang bagi suara sastra.
Editor : Virgi Ali
Publikasi Digital : Raden William

0 Komentar