Cimahi, Cimahi Aktual – Cimahi Street Musik (CSM) kembali menunjukkan geliat komunitas seni di Kota Cimahi melalui kegiatan yang mengusung semangat Kebudayaan Nusantara, Music Live Therapy dan Wisata Masyarakat Kota Cimahi, Sabtu (1/8/2026).
Digelar gratis untuk umum, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang hiburan masyarakat, tetapi juga menghadirkan pertemuan antara seni musik, komunitas, UMKM dan ekonomi kreatif. Dari panggung komunitas, aktivitas masyarakat ikut bergerak dan membuka peluang terjadinya perputaran ekonomi.
Penampilan pertama dibuka oleh Vocal Group Nasyid GTA. Mereka membawakan lagu-lagu bernuansa religi Islam dengan kemasan musik modern. Perpaduan tersebut memberikan warna tersendiri dalam rangkaian CSM sekaligus memperlihatkan bahwa musik religi dapat dikemas secara kreatif dan dekat dengan perkembangan musik masa kini.
Suasana kemudian berlanjut dengan penampilan akustik Gress Bastian. Dengan format solo guitar, Gress menghadirkan nuansa yang lebih santai dan hangat. Penampilan tersebut sejalan dengan konsep Music Live Therapy yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati musik dalam suasana terbuka dan dekat dengan komunitas.
Energi pertunjukan kembali meningkat ketika Waiting List Band dari Kabupaten Bandung Barat tampil. Membawakan lagu-lagu energik, mereka menghidupkan suasana sekaligus memperlihatkan bahwa CSM dapat menjadi ruang kolaborasi bagi musisi lintas daerah.
Rangkaian pertunjukan kemudian ditutup oleh RHNZ Band dengan penampilan yang berkesan. Kehadiran berbagai karakter musik dalam satu kegiatan membuat CSM menjadi ruang bertemunya beragam komunitas dan pelaku musik.
Tidak hanya mengandalkan pertunjukan, CSM juga memberikan ruang bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari ekosistem kegiatan yang mempertemukan hiburan dengan peluang ekonomi masyarakat.
Kehadiran UMKM dalam kegiatan seni menunjukkan bahwa panggung komunitas dapat memiliki dampak lebih luas. Ketika masyarakat datang menikmati pertunjukan, pelaku usaha juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan dan menjual produknya.
Hal tersebut sekaligus memperlihatkan potensi ekonomi kreatif di Kota Cimahi yang dapat tumbuh dari kegiatan masyarakat. Seni tidak berhenti sebagai pertunjukan, tetapi dapat menjadi pemicu interaksi sosial sekaligus perputaran ekonomi.
Komunitas Mampu Bergerak Mandiri
CSM menjadi salah satu gambaran bahwa komunitas seni di Kota Cimahi mampu bergerak secara mandiri. Para pelaku seni tidak selalu harus menunggu event besar atau program pemerintah untuk dapat menciptakan ruang berkesenian.
Dengan gotong royong, jaringan komunitas dan kreativitas, mereka mampu menghadirkan pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
Penyelenggaraan CSM tidak terlepas dari kolaborasi berbagai komunitas, di antaranya Studio 7, Cimahi Rock Community (CRC), Komunitas The Rolling Stones, Rumah Seni Cimahi (RSC), Komunitas Sound System Cimahi (KSSC), Star Sound, Himpunan Artis Musik Independen (HAMI), serta dukungan media partner Lima Waktu dan Cimahi Aktual.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan tersendiri. Masing-masing komunitas membawa jaringan, pengalaman dan sumber daya sehingga kegiatan dapat terus berjalan dengan semangat kebersamaan.
Kondisi ini menjadi bukti bahwa ekosistem seni di Kota Cimahi sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat. Komunitas sudah memiliki inisiatif, pelaku seni terus berkarya dan masyarakat masih memiliki antusiasme terhadap kegiatan seni yang hadir di ruang publik.
Pemkot Diharapkan Lebih Banyak Membuka Ruang
Di tengah kemandirian tersebut, terdapat catatan yang perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Cimahi, khususnya Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora).
Pemerintah diharapkan tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan event yang berada di lingkungan atau kawasan pemerintahan. Komunitas seni yang tumbuh dan bergerak langsung di tengah masyarakat juga membutuhkan perhatian dan dukungan.
Dukungan tersebut tidak selalu harus berbentuk penyelenggaraan acara. Pemerintah dapat hadir melalui penyediaan ruang publik, fasilitas berkesenian, kemudahan perizinan, promosi, pendampingan, penguatan jejaring serta akses terhadap program ekonomi kreatif.
Dengan pola tersebut, komunitas tetap menjadi penggerak utama, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator yang memperkuat ekosistem.
Kritik ini bukan berarti komunitas meminta seluruh kegiatan diambil alih pemerintah. Justru sebaliknya, kemampuan komunitas menjalankan kegiatan secara mandiri seharusnya menjadi modal bagi Pemkot Cimahi untuk memberikan ruang yang lebih luas.
Jangan sampai kegiatan seni hanya terlihat ketika pemerintah membuat sebuah event. Kehidupan seni justru berlangsung setiap waktu melalui komunitas-komunitas yang secara konsisten berkarya dan membangun ruang kreatif di tengah masyarakat.
CSM dan Masa Depan Ekonomi Kreatif Cimahi
CSM pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang tampil di atas panggung. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana seni, komunitas dan ekonomi kreatif dapat berjalan secara beriringan.
Musisi mendapatkan ruang tampil, komunitas memiliki tempat untuk berkolaborasi, masyarakat mendapatkan hiburan gratis, sementara UMKM memperoleh kesempatan menggerakkan usahanya.
Pola seperti ini layak terus dikembangkan di Kota Cimahi. Bukan sekadar memperbanyak jumlah event, tetapi memperkuat komunitas agar mampu menciptakan kegiatan secara berkelanjutan.
CSM membuktikan bahwa komunitas seni Cimahi mampu mandiri dan tumbuh. Tinggal bagaimana pemerintah hadir bukan untuk mengambil alih gerakan tersebut, melainkan memberikan ruang, dukungan dan perhatian agar potensi yang sudah tumbuh dari masyarakat dapat berkembang lebih besar.
Seni yang hidup bukan hanya seni yang tampil di atas panggung pemerintahan. Seni yang hidup adalah seni yang tumbuh di tengah masyarakat, bergerak bersama komunitas dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Raden William



0 Komentar