Aktual

Kursi Roda dari Kata-Kata: Catatan tentang Ericka dan Cimahi

 

Ericka, Penulis Muda Kota Cimahi, Eco Wisata Cimenteng , Jawa Barat (25/6/2026).

Cimahi, Cimahi Aktual - Bangun tidur, jemari saya refleks menggulir layar Facebook. Di antara riuh kabar yang berseliweran, ada potongan berita yang membuat saya berhenti sejenak. Walau tayangannya sepotong-sepotong, ingatan saya langsung melompat ke sebuah peristiwa: acara **1000 Buku untuk Kota Cimahi** tahun 2024 silam. Di sana, saya pernah bercerita tentang seorang anak bernama **Ericka**—seorang penulis muda dengan talenta yang nyaris tak terlihat oleh mata publik.

Saya masih ingat jelas bagaimana Ericka menulis dengan penuh gairah, namun karyanya seolah tak dianggap. Tak ada yang peduli, tak ada yang menghargai. Dari kegelisahan itu, saya mengambil inisiatif: mengangkat namanya, menerbitkan karyanya menjadi sebuah buku. Langkah kecil, tapi bagi saya itu adalah cara memberi ruang bagi suara yang nyaris tenggelam. Kebetulan, komunitas **DILANS Bandung** melihat potensi besar dalam diri Ericka. Dari sana lahirlah buku keduanya. Kata-kata yang ia tulis menjadi bukti nyata, bukan sekadar hobi, melainkan talenta yang layak diperjuangkan.

Buku-buku itu kemudian menjadi jalan. Ia direkomendasikan ke dinas, ke pemerintah, sebagai bukti bahwa seorang anak dari keluarga sederhana—ayahnya tukang ojek daring, ibunya pembuat kue kecil-kecilan—pun berhak mendapat perhatian. Kursi roda elektrik yang canggih dan mahal, menurut saya, bukan sekadar alat bantu. Ia adalah simbol pengakuan atas kerja keras dan talenta. Ericka berhak mendapatkannya, bukan karena belas kasihan, melainkan karena karyanya berbicara lebih lantang daripada seribu pidato pejabat.

Saya pernah menyampaikan kisah ini di forum, di hadapan pejabat, termasuk istri mantan Wali Kota Sahroni yang hadir sebagai **Bunda Literasi**. Hari itu menjadi momentum luar biasa. Kata-kata yang saya lontarkan, sindiran yang saya tujukan pada pejabat Cimahi yang kurang peduli terhadap nasib disabilitas, ternyata menggugah. Bunda Literasi datang langsung ke rumah Ericka, membawa hadiah berupa tablet. Hadiah sederhana, tapi penuh makna: pengakuan bahwa talenta tak boleh dipandang sebelah mata.

Sejak saat itu, saya melihat perubahan. Acara-acara besar di Cimahi mulai melibatkan penyandang disabilitas. Fasilitas kebutuhan mereka perlahan disediakan. Kursi roda elektrik yang akhirnya dimiliki Ericka adalah bukti nyata: karya bisa membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Saya sering bertanya dalam hati, “Mana pemerintah kita?” Tapi jawaban itu muncul sendiri: perubahan terjadi ketika suara-suara kecil berani bersuara, ketika kata-kata dijadikan senjata untuk menembus tembok ketidakpedulian.

Kini, Ericka sering diundang oleh komunitas di Cimahi. Ia bukan lagi sosok yang terpinggirkan, melainkan bagian dari percakapan budaya kota. Yang paling menyenangkan adalah melihat kepedulian pemerintah mulai tumbuh. Tidak besar, tidak sempurna, tapi ada. Dan itu berarti harapan masih hidup.

Literasi bukan hanya soal buku, melainkan soal keberanian, Kota Cimahi (25/6/2026).

Catatan ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa literasi bukan hanya soal buku, melainkan soal keberanian memberi ruang bagi yang terpinggirkan. Ericka telah membuktikan bahwa kata-kata bisa mengubah nasib. Dari halaman-halaman yang ia tulis, lahirlah kursi roda elektrik, lahir perhatian, lahir perubahan. Dan bagi saya, itu adalah kemenangan kecil yang layak dirayakan.

Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis. Ia adalah tentang **mengakui keberadaan orang lain**, tentang memberi tempat bagi suara yang sering diabaikan. Ericka adalah wajah dari perjuangan itu. Dan Cimahi, perlahan, belajar untuk mendengar.

Penulis : Didin Tulus
Editor : Virgi Ali, Raden William

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close