Ilustrasi , Cimahi Aktual (8/4/2026)
Cimahi Aktual - Di tengah hingar-bingar negeri yang gemar melangitkan doa namun lupa membumikan nalar, suara jernih kerap disangka petir yang mengancam. Masyarakat lebih terbuai oleh janji-janji langit yang indah ketimbang berpeluh mengolah bumi yang nyata. Tangan-tangan terangkat dalam kepasrahan, tetapi kelopak mata enggan merekah menyaksikan realitas yang bergelayut di depan hidung. Mereka mahir mengutip garis takdir, namun tersendat saat diminta merangkai hubungan sebab-akibat yang sederhana.
Logika menjadi duri bagi mereka yang haus kekuasaan tanpa kontrol. Sebab logika adalah alat pembongkar kepalsuan: mengapa kemiskinan subur di tanah yang kaya raya? Mengapa perut keroncongan di musim panen melimpah? Mengapa rakyat terus dipaksa bersabar sementara para penguasa sibuk menimbun harta di balik tirai kekuasaan? Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah penghasut — ia berbahaya justru karena ketulusannya, karena kebenarannya yang telanjang.
Di negeri yang demikian, orang waras kerap dicap durhaka. Mereka yang meminta bukti disebut kurang teguh iman. Mereka yang menagih keadilan dituduh sebagai biang kericuhan. Seolah-olah berpikir adalah dosa, dan kepatuhan tanpa nalar adalah mahkota kebajikan. Padahal jika direnungkan, kemerdekaan sejati tidak lahir dari doa yang pasrah buta, melainkan dari pikiran yang berani merdeka. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling tekun berlutut, tetapi yang paling gagah berdiri di atas akal sehatnya sendiri.
Tanpa logika, doa hanya menjadi pelarian yang manis tapi lumpuh. Tanpa keberanian bernalar, iman mudah disusupi kepentingan dan dijadikan kuda tunggang kekuasaan yang zalim. Sejarah tidak pernah digerakkan oleh mereka yang diam dan hanya menengadah. Sejarah lahir dari kegelisahan, dari keberanian bertanya, dari logika yang membakar kemunafikan.
Maka, catatan ini bukanlah seruan untuk meninggalkan doa, melainkan panggilan untuk menyatukan langit dan bumi: berdoalah, tetapi tetaplah berpikir. Jadilah umat yang tidak hanya fasih meratap takdir, tetapi juga cakap mengubah keadaan dengan akal budi. Sebab di ujung jalan, keselamatan sebuah negeri tidak ditentukan oleh seberapa lama tangannya terangkat ke langit, tetapi oleh seberapa jernih matanya terbuka membaca kenyataan.
Penulis : Didin Tulus

0 Komentar