Para Penari dan Pesilat memainkan Adegan dalam pertunjukan "Munding Dongkol" (doc.red)
Pendekatan yang dihadirkan Hermana HMT dalam pertunjukan “Munding Dongkol” versi kontemporer tampil kuat, baik secara artistik maupun gagasan. Karya ini tidak sekadar mengangkat cerita rakyat Sunda, tetapi membongkarnya, mengolah ulang, dan menghidupkannya kembali sebagai kritik sosial yang relevan dengan kondisi kekinian—terutama krisis lingkungan dan persoalan air bersih.
Secara judul, Munding Dongkol sudah memancing tafsir. Dalam tradisi lisan Sunda, “munding” (kerbau) kerap diasosiasikan dengan kekuatan dan sisi liar alam, sementara “dongkol” mengandung emosi amarah atau kejengkelan yang memuncak. Perpaduan keduanya melahirkan simbol tentang kekuatan yang terdistorsi—kemarahan alam akibat ketidakseimbangan.
Dalam tafsir kontemporer ini, Hermana tidak lagi memosisikan munding sebagai makhluk mistis. Ia menggesernya menjadi simbol keserakahan manusia—kekuatan destruktif yang lahir dari ambisi tak terkendali. Di sinilah letak kecerdasan konseptual pertunjukan ini: mitos lama dibaca ulang melalui lensa krisis ekologis modern.
Salah satu elemen visual paling mencolok adalah kehadiran simbol bulldozer. Mesin besar yang berdiri di atas lanskap tanah kering bukan sekadar properti panggung, melainkan metafora pembangunan yang agresif. Ia merepresentasikan benturan antara teknologi dan alam, kemajuan dan kehancuran, ambisi dan keberlanjutan—sebuah kontras yang langsung terasa oleh penonton.
Pertunjukan ini digelar oleh Komunitas Bandoengmooi bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi serta didukung Pemerintah Kota Cimahi melalui Disbudparpora. Pementasan berlangsung pada 16 April 2026 di Taman Budaya Jawa Barat dan mendapat respons positif dari penonton.
Melibatkan sekitar 45 seniman muda dari berbagai disiplin—tari, teater, musik, dan pencak silat—pertunjukan ini merupakan kolaborasi komunitas seni Kota Cimahi seperti Jalingeur, Putri Mandiri, dan Kidang Kencana. Di bawah arahan Hermana sebagai dramaturg, Hafidz Permana sebagai sutradara, serta tim kreatif lintas bidang, sajian ini tampil solid dan memikat.
Jajaran Pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) hadir diantara penonton dalam pertujukan teater "Munding Dongkol" (doc.red)Menurut Mang Hermana, "pertunjukan ini merupakan bagian dari Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat 2026 yang difasilitasi UPTD PKDJB dan didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia" ungkapnya.
"Kekuatan pertunjukan ini terletak pada cara penyampaian simbol yang tidak verbal. Tanpa narasi yang menggurui, pesan disampaikan melalui bahasa tubuh, komposisi ruang, dan atmosfer panggung. Penonton tidak dipaksa memahami, melainkan diajak merasakan dan dari situlah makna bekerja lebih dalam" sambungnya.
Pilihan medium drama tari musikal juga terbukti efektif. Isu lingkungan yang kerap terasa abstrak menjadi hidup melalui gerak tubuh, musik, dan visual. Gerakan para penari merepresentasikan tubuh alam yang tertekan—penuh ketegangan, konflik, dan kelelahan. Musik menjadi lapisan emosional yang memperkuat suasana, sementara tata panggung menghadirkan lanskap gersang yang mempertegas narasi krisis.
Penggunaan ruang pun tidak sekadar estetika, melainkan bagian dari cerita. Tanah kering, warna kusam, dan kehadiran mesin berat menciptakan dunia yang terasa rapuh. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi seolah masuk ke dalam situasi yang sedang terjadi.
Menariknya, pertunjukan ini tidak berhenti pada kritik. Ia membuka ruang refleksi dengan mengaitkan mitos lokal dan isu global. Hermana mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sesuatu yang jauh, melainkan berakar pada budaya dan cara manusia memaknai alam.
Dalam konteks ini, Munding Dongkol menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Cerita rakyat yang dahulu berfungsi sebagai pengingat moral kini menjelma menjadi alat kritik terhadap modernitas yang kerap mengabaikan keseimbangan alam.
Karya ini juga tidak menawarkan solusi sederhana. Ia menghadirkan kompleksitas—bahwa manusia adalah bagian dari masalah sekaligus solusi. Pembangunan bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi menjadi persoalan ketika kehilangan kendali dan mengabaikan dampaknya.
Pada akhirnya, Munding Dongkol hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan pengalaman artistik yang menggugah kesadaran. Ia meninggalkan jejak berupa pertanyaan dan kegelisahan—sesuatu yang justru penting di tengah derasnya arus informasi yang kerap membuat manusia mati rasa.
Pertunjukan ini menjadi contoh bagaimana seni dapat berperan sebagai medium efektif untuk membicarakan isu penting. Tradisi tidak harus statis, mitos bisa terus hidup dalam tafsir baru, dan seni memiliki kekuatan untuk menjangkau sisi emosional yang tak tersentuh oleh data semata.
Dengan kekuatan konsep dan visualnya, Munding Dongkol bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga layak menjadi rujukan bagi karya seni yang ingin tetap relevan, kritis, dan berakar pada identitas budaya. Ini bukan sekadar pertunjukan—melainkan sebuah pernyataan yang disampaikan secara elegan, tajam, dan membekas.(Abba)
Reportase : Virgy Ali
Editor : Abba Na Arakas


0 Komentar