Aktual

Tanpa Menunggu Program, Anak-Anak Kampung Cileutik Belajar Empati secara mandiri di Kali

Jurnalis Cimahi Aktual , Virgi bersama Anak-Anak Kreatif Cipageran , Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat (2/2/2026).

 Cimahi, Cimahi Aktual — Di tengah geliat kota yang semakin modern dan kerap dibanjiri wacana tentang kota ramah anak, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya, pemandangan sederhana namun bermakna masih bisa ditemui di Kampung Cileutik, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat. Di kawasan yang dialiri kali dan dikelilingi ruang hijau, anak-anak menghabiskan sore mereka dengan bermain air dan berenang di sungai, menikmati masa kecil secara alami tanpa menunggu program atau kebijakan resmi (2/2/2026).

Pada waktu tertentu, tepi kali dipenuhi tawa anak-anak yang saling ciprat-cipratan air. Mereka berenang, menyelam, dan berlomba dengan teman sebaya. Suara riang mereka berpadu dengan aliran air yang tenang, menghadirkan pemandangan yang hangat dan hidup. Kali, bagi mereka, bukan sekadar aliran air, melainkan ruang bermain yang memberi kebebasan dan kegembiraan.

Permainan air di kali juga memperkenalkan anak-anak pada pentingnya menjaga lingkungan, Kota Cimahi , Jawa Barat (2/2/2026).

Permainan air tersebut berlangsung secara kolektif. Anak-anak belajar menunggu giliran, berbagi ruang, dan menyesuaikan permainan agar semua bisa terlibat. Ketika ada teman yang belum mahir berenang, teman-temannya sigap membantu dan mengingatkan agar tetap berada di bagian kali yang aman. Dari interaksi sederhana ini, empati dan solidaritas tumbuh secara alami, tanpa perlu pengajaran formal.

Selain membangun kebersamaan, berenang dan bermain di kali juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal kemampuan diri. Mereka belajar mengukur keberanian, melatih ketahanan fisik, dan memahami lingkungan sekitar. Aktivitas ini menjadi rutinitas yang dinantikan, penuh kegembiraan dan tantangan, namun tetap sederhana.

Kegiatan ini tidak luput dari perhatian masyarakat setempat. Warga menilai kali sebagai ruang bermain yang telah lama memberi manfaat bagi anak-anak. Selama dilakukan dengan pengawasan dan kesepakatan bersama, aktivitas tersebut dianggap aman dan bermanfaat bagi tumbuh kembang fisik dan sosial anak-anak.

Di luar masyarakat, perhatian juga mulai mengalir dari Pemerintah Kota Cimahi serta seniman dan budayawan. Pemerintah menyoroti pentingnya menjaga sungai dan ruang hijau sebagai bagian dari pembangunan sosial. Sementara para seniman dan budayawan melihat aktivitas bermain air ini sebagai bagian dari budaya bermain tradisional yang perlu dilestarikan. Mereka menilai bahwa pengalaman anak-anak di kali, sekalipun sederhana, mengandung nilai-nilai kebersamaan, empati, dan kedekatan dengan alam yang jarang muncul di forum diskusi resmi.

Fenomena di Kampung Cileutik menghadirkan ironi lembut. Saat wacana tentang kota layak anak dan pelestarian budaya sering menjadi topik seminar atau workshop, praktik nyata tetap berjalan di tepi kali, tanpa sorotan, tanpa program khusus, dan tanpa label formal. Anak-anak tetap menemukan cara mereka sendiri untuk belajar kebersamaan, bertukar pengalaman, dan membangun solidaritas melalui interaksi dengan teman sebaya dan alam.

nilai kebersamaan dan empati tidak selalu lahir dari kebijakan atau program resmi, Cileutik, Kel. Cipageran, Kec.Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat (2/2/2026).

Permainan air di kali juga memperkenalkan anak-anak pada pentingnya menjaga lingkungan. Mereka belajar mengenal arus, kedalaman air, serta kondisi sekitar kali. Secara alami, kesadaran untuk merawat lingkungan tumbuh, karena tempat itulah yang menjadi ruang bermain mereka.

Di tengah arus pembangunan kota dan digitalisasi, Kampung Cileutik menyampaikan pesan sederhana namun kuat: nilai kebersamaan dan empati tidak selalu lahir dari kebijakan atau program resmi. Terkadang, mereka tumbuh dari aktivitas sehari-hari yang dilakukan dengan riang, alami, dan tulus—seperti bermain air di kali.

Air terus mengalir, anak-anak terus bermain, dan di tepi kali, kebersamaan tumbuh dengan sendirinya. Sementara itu, wacana dan perhatian formal tetap ramai di ruang diskusi, menunggu momen untuk hadir di dunia nyata.


Reportase : Eel
Jurnalis : Virgi Ali 

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close