![]() |
| Wiwi Witana, Pasewakan, Kel. Cibabat,Kota Cimahi (22/1/2026). |
Cimahi, Cimahi Aktual - Aliran Kepercayaan Kebatinan terus berkembang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Bertempat di Gedung Pasewakan Runtut Raut Sauyunan, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, warga Perjalanan rutin berkumpul setiap 36 hari untuk melaksanakan kegiatan spiritual sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada Hari Respati (Kamis) malam Sukra (Jumat), 4 Kliwon, penghayatan spiritual berlangsung khidmat dan penuh makna (22/1/2026).
Wiwi Witana, Ketua Dewan Musyawarah Daerah (DMD), menekankan:
“Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan gotong royong, dan menjaga kerukunan. Di tengah kesibukan modern, tradisi ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, hidup harmonis dengan sesama, diri sendiri, dan alam. Setiap pertemuan menjadi ruang belajar hidup jujur, baik, dan selaras dengan lingkungan.”
Tema penghayatan spiritual menekankan kerukunan, persatuan, sejarah diri, dan keselarasan dengan alam. Abah Mimin, sesepuh dan panutan spiritual, mengajak warga untuk mengenal jati diri dan makna hidup sejati. Ia menegaskan pentingnya bersyukur kepada diri sendiri, orang tua, dan leluhur, serta hidup dengan sikap jujur, benar, sehat, dan berbuat baik.
Warga merasakan manfaat kebatinan dalam kehidupan sehari-hari. Yani Suhaeni dari Padasuka, Cimahi Tengah, menyebut:
“Kebatinan mengajarkan saya untuk tidak memaksakan kehendak, lebih menerima, dan selalu bersyukur. Saya belajar rukun dengan sesama dan menjaga pikiran tetap bersih.”
Sementara Saepudin menambahkan:
“Kebatinan bukan hanya soal ritual, tapi juga pedoman hidup—salih, saling asah, asih, dan asuh. Batin rukun, hubungan dengan sesama pun harmonis.”
![]() |
| Yani Suhaeni dan Saepudin, AKP, Kec. Cimahi Utara (22/1/2026). |
Kegiatan rutin ini menjadi cerminan kearifan lokal yang berpadu harmonis dengan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Di tengah modernisasi, penghayatan kebatinan tetap relevan sebagai pengingat pentingnya persatuan, gotong royong, dan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Melalui tradisi ini, Aliran Kepercayaan Kebatinan tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menanamkan nilai luhur bagi generasi masa kini dan mendatang—bahwa hidup baik berawal dari batin jernih dan hati yang rukun.
Reportase : Virgi Ali
Jurnalis : Virgi Ali
Editor : Ghaza


0 Komentar