Aktual

Bersuara untuk Perubahan: Pelatihan Advokasi yang Menguatkan Keluarga

ARLENE S. TUMBAGA (Parent Representative) dan Mary Grace Torres, Parent Coordinator dan Project Coordinator Perkins Asia Pacific Region serta para peserta dari Komunitas Keluarga Cerbal Palsi Bandung Raya
 Bandung, Cimahi Aktual – Pelatihan Effective Communication and Advocacy bagi orang tua serta organisasi pendukung anak penyandang disabilitas digelar selama dua hari, 15–17 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta advokasi orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.

Pelatihan dipandu oleh Mary Grace Torres, Parent Coordinator dan Project Coordinator Perkins Asia Pacific Region, dan diikuti oleh orang tua, pendidik, serta perwakilan organisasi yang aktif dalam isu disabilitas di Indonesia.

Dalam sesi wawancara, Mary Grace mengaku terkesan dengan antusiasme para peserta selama mengikuti pelatihan. Ia menilai semangat tersebut menjadi modal penting bagi keberhasilan program ke depan.

“I was very surprised by the enthusiasm of the training participants, and I think it will be successful like in my country, the Philippines, as it will greatly help people with disabilities and their families,” ujar Mary Grace Torres.

Menurutnya, komunikasi asertif merupakan fondasi penting agar orang tua mampu menyampaikan kebutuhan anak secara jelas dan percaya diri, tanpa menimbulkan konflik dengan pihak sekolah maupun lingkungan sekitar. Peserta diajak memahami perbedaan gaya komunikasi pasif, asertif, dan agresif, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Para peserta melakukan beberapa pemecahan kasus bersama Grace

Selain materi komunikasi, pelatihan juga menekankan pentingnya hubungan kolaboratif antara orang tua, guru, terapis, dan komunitas. Melalui diskusi kelompok dan team circle activity, peserta dilatih mengidentifikasi permasalahan, pemangku kepentingan, hingga menyusun solusi dan rencana aksi yang realistis.

Materi tentang pembangunan komunitas dan ketahanan keluarga (resilience) turut menjadi fokus. Mary Grace menegaskan bahwa dukungan komunitas dapat membantu keluarga menghadapi tekanan emosional sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi anak penyandang disabilitas.

Foto Narasumber dan para Peserta

Berbagai simulasi dan role play juga dilakukan, mulai dari skenario komunikasi dengan pihak sekolah, inisiatif membentuk kelompok dukungan disabilitas di masyarakat, hingga mendorong inklusivitas di lingkungan keagamaan.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan action plan, di mana setiap peserta merumuskan langkah konkret yang akan diterapkan setelah pelatihan. Program ini diharapkan mampu memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam mewujudkan dukungan berkelanjutan bagi anak penyandang disabilitas.(Red)

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close