Aktual

Rubrik Sastra | Kodrat yang Diciptakan: Ketika Suara Perempuan Menembus Pagar di Era FYP

Ilustrasi, Kodrat yang Diciptakan, Rubrik Sastra Cimahi Aktual, (14/8/2026).

Cimahi Aktual — Rubrik Sastra

Puisi oleh: Ayuni Larasvara


Kodrat yang Diciptakan

Perempuan dipagari 

pagar itu disebut perlindungan

Mulutnya dibungkam 

lalu diamnya disebut kelembutan

Dijadikan perhiasan 

dipoles untuk dipandang

dikurung untuk dimiliki

Lelaki menamainya cinta


padahal kuncinya dipegang sendiri

Menyebutnya kodrat

Seolah Tuhan pernah menitahkan

Agar satu manusia


lahir 

untuk berkuasa  atas lainnya

Namun sejarah selalu punya ironi

Sang penjajah pun pernah 

kehilangan kuasa
di  hadapan sepasang 

mata
yang tak sudi lagi dijajah

Ayuni Larasvara, Bandung Barat, 12 Agustus 2026


Ketika “Kodrat” Masuk ke FYP

Ada puisi yang sekadar dibaca. Ada pula puisi yang membuat pembacanya berhenti, menatap layar lebih lama, kemudian bertanya kepada dirinya sendiri.

Kodrat yang Diciptakan karya Ayuni Larasvara berada di wilayah kedua.

Puisi ini berbicara tentang perempuan, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih luas: tentang kuasa, kebebasan, cinta, dan batas antara perlindungan dengan penguasaan.

Kalimat-kalimatnya seperti membuka satu per satu pagar yang selama ini dianggap biasa.

Perempuan dipagari atas nama perlindungan.
Diam disebut kelembutan.
Kepatuhan dianggap kodrat.
Sementara cinta perlahan berubah menjadi kepemilikan.

Di zaman media sosial, persoalan tersebut menemukan wajah yang baru.

TikTok, misalnya, telah berkembang menjadi ruang tempat orang berbagi pengalaman dan membangun komunitas. Sebuah video pendek dapat memancing ribuan komentar, lalu melahirkan percakapan yang lebih luas. Pengalaman pribadi yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ruang privat bisa berubah menjadi cerita bersama.

Satu orang berbicara.

Yang lain merasa relate.

Kemudian muncul komentar, “Aku juga pernah mengalami hal yang sama.”

Dari sana, terbentuk komunitas.

Namun ruang digital juga tidak selalu menjadi tempat yang ramah. Di balik kebebasan berbicara, ada budaya judgementyang bergerak sangat cepat.

Perempuan yang bersuara lantang bisa disebut kasar.
Perempuan yang mandiri dianggap terlalu bebas.
Perempuan yang menentukan pilihan sendiri dipertanyakan.
Bahkan dalam ruang komentar, kata “kodrat” masih kerap digunakan untuk membatasi.

Pagar yang dahulu berbentuk tembok, hari ini bisa berubah menjadi opini.

Ia bisa berupa komentar.

Bisa berupa tekanan sosial.

Bisa pula berupa standar yang terus ditampilkan algoritma hingga seseorang merasa harus memenuhi ukuran tertentu agar dianggap pantas.

Puisi Ayuni Larasvara kemudian terasa seperti sebuah pertanyaan yang dilemparkan ke tengah keramaian digital:

Siapa yang sebenarnya membuat pagar itu?

Apakah benar pagar tersebut berasal dari ketetapan yang tidak boleh dipertanyakan?

Atau jangan-jangan, sebagian pagar itu dibangun oleh manusia, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang alamiah?

Di sinilah kekuatan puisi ini.

Ia tidak sekadar menyalahkan satu pihak. Ia mengajak pembaca melihat kembali bagaimana sebuah kata dapat digunakan untuk membenarkan kuasa.

Sebab cinta seharusnya tidak membutuhkan kunci.

Perlindungan seharusnya tidak menghilangkan suara.

Dan “kodrat” tidak seharusnya menjadi alasan untuk menempatkan satu manusia lebih tinggi daripada manusia lainnya.

Menariknya, media sosial justru membuka ruang bagi suara-suara yang dahulu sulit terdengar.

TikTok dan berbagai komunitas digital memperlihatkan bagaimana sebuah pengalaman personal dapat berubah menjadi percakapan kolektif. Seseorang yang merasa sendirian dapat menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa.

Dari layar kecil, lahir keberanian.

Dari keberanian, lahir percakapan.

Dan dari percakapan, perlahan muncul kesadaran.

Karena itu, Kodrat yang Diciptakan terasa relevan dengan zaman ketika kehidupan sosial tidak hanya berlangsung di jalan, rumah, sekolah, kantor, atau panggung seni, tetapi juga di dalam layar ponsel.

Di tengah budaya scroll, like, share, dan FYP, puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sebentar.

Tidak sekadar melihat apa yang sedang viral.

Tetapi melihat apa yang selama ini dianggap normal.

Sebab tidak semua yang sering diulang adalah kebenaran.

Dan tidak semua yang disebut “kodrat” harus diterima tanpa pertanyaan.

Pada akhirnya, mungkin kemerdekaan bukan hanya tentang membuka pintu yang terkunci.

Kemerdekaan juga tentang memiliki keberanian untuk bertanya:

Siapa yang memasang kunci itu sejak awal?

Dan ketika seseorang akhirnya berani mengambil kunci tersebut dari tangan yang selama ini menggenggamnya, pagar itu mungkin tidak langsung runtuh.

Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya—

ia tahu bahwa dirinya tidak dilahirkan untuk hidup di balik pagar.

— Rubrik Sastra Cimahi Aktual


Editor: Virgi Ali


Publikasi Digital: Raden William

0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close