Yayah Ganda Bersama Walikota Cimahi Ngatiyana dan Midjiati Ningsih, Kota Cimahi (26/6/2026).
Cimahi, Cimahi Aktual - Suara *microphone* di aula Perpustakaan Kota Cimahi itu berdengung sejenak sebelum memantul ke dinding-dinding yang dijajari rak-rak buku. Saya duduk di sana, di antara Febri Satria Yazid dan Jumari Haryadi, memperhatikan wajah-wajah para pejabat yang berbaris rapi di depan. Mereka sedang meluncurkan *Tour Library Funtastic!*.
"Sudah selayaknya kita membaca buku, menelusuri naskah kuno, dan menggali kembali arsip-arsip yang tercecer," begitu kira-kira intonasi retorika yang terucap. Kalimat-kalimat itu meluncur fasih, membungkus ajakan literasi dengan aroma formalitas yang kental.
Saya tersenyum tipis. Bukan karena tidak setuju, tapi karena pikiran saya sedang melayang jauh ke masa lalu, ke lembar-lembar naskah Sunda kuno yang aromanya lebih tua dari gedung perpustakaan ini. Ketika mereka baru bicara tentang *ajakan* untuk membaca, saya dan rekan-rekan di meja diskusi sudah lama meninggalkan fase itu. Bagi kami, literasi bukan lagi sebuah imbauan yang harus dipidatokan; ia adalah napas, detak jantung, dan makanan sehari-hari. Jika dalam satu hari saja saya tidak mendiskusikan buku, tidak bergelut dengan naskah, atau tidak memeras otak untuk menulis, ada kegelisahan yang merayap di dada.
Literasi, bagi banyak orang, mungkin hanya berarti mengeja huruf di atas kertas. Bagi saya, itu adalah sebuah kancah pertempuran intelektual yang tak pernah usai.
Melampaui Kata, Menemukan Jiwa dalam Naskah
Saat ini, saya sedang tenggelam dalam sebuah proyek kreatif: meramu naskah Sunda kuno *Para Putra Rama dan Rahwana* menjadi sebuah novel. Menariknya, saat saya menyelami kedalaman naskah ini, saya menemukan bahwa ia bukan sekadar peninggalan bisu. Banyak pendahulu dan rekan sesama penulis telah menyentuhnya, membedahnya, bahkan meretasnya ke dalam bentuk puisi yang indah.
Namun, menggarapnya menjadi novel memberikan tantangan yang berbeda. Ini bukan soal merangkum, melainkan menghidupkan kembali roh yang terkubur dalam aksara-aksara kuno yang mungkin sudah lama tak terbaca oleh generasi masa kini.
Naskah *Para Putra Rama dan Rahwana* membawa kita ke sebuah labirin mitologi yang eksotis, di mana narasi *Bujanggalawa* dan *Puspalawa* menjadi porosnya. Mari kita sejenak menyingkap tirai masa lalu itu.
Dalam naskah ini, kita tidak hanya bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti Rama atau Rahwana yang biasanya mendominasi panggung wayang. Kita diperkenalkan pada sosok Bujanggalawa dan Puspalawa. Mereka adalah cerminan dari kompleksitas hubungan darah dan takdir. Bujanggalawa, dengan segala keteguhan hatinya, dan Puspalawa, yang membawa dinamika tersendiri dalam alur cerita, adalah representasi dari bagaimana naskah kuno Sunda seringkali memberikan "ruang gelap" yang menarik untuk diterangi.
Kisah mereka bukanlah kisah hitam-putih. Ia adalah drama tentang identitas, tentang warisan yang harus dipikul, dan bagaimana bayang-bayang orang tua—Rama yang agung atau Rahwana yang kontroversial—membentuk jiwa anak-anaknya. Dalam novel yang sedang saya garap, saya mencoba membedah bagaimana perasaan mereka saat berada di persimpangan jalan sejarah yang besar. Bagaimana seorang anak yang lahir dari rahim legenda menanggung beban ekspektasi dunia?
Literasi: Antara Pidato dan Praktik
Kembali ke acara di Cimahi tadi. Bukankah ironis ketika literasi sering kali hanya berhenti di tataran simbolis? Para pejabat mengajak masyarakat untuk membaca, sementara saya justru sedang sibuk menerbitkan buku-buku pedalangan. Mengapa? Karena saya sadar, literasi tanpa aplikasi adalah kesia-siaan.
Menerbitkan buku pedalangan adalah cara saya "menjemput" generasi muda. Saya ingin mereka tidak hanya menonton wayang sebagai tontonan bisu, tetapi memahami falsafah di baliknya, mencintai bahasa Sunda sebagai media ekspresi, dan melihat pedalangan sebagai kekayaan intelektual yang dinamis.
Saya tidak sedang "menyentuh" buku, saya sedang "menciptakan" ekosistemnya.
Banyak orang bertanya, "Mengapa harus sebegitu seriusnya dengan buku, dengan naskah kuno?" Jawaban saya selalu sama: karena sejarah bukan untuk dipajang di museum, tapi untuk dijadikan cermin hari ini. Ketika saya membaca *Para Putra Rama dan Rahwana*, saya tidak sedang membaca masa lalu. Saya sedang membaca manusia. Saya sedang membaca ketakutan, keberanian, dan kerinduan manusia yang tetap sama, meskipun ribuan tahun telah berlalu.
---
Pertanyaan bagi Para Penjaga Literasi
Hari ini, di tengah riuhnya dunia digital yang serba instan, saya sering kali tergelitik untuk bertanya kepada mereka yang mengaku pegiat literasi: "Sudah sejauh mana kalian berliterasi?"
Apakah literasi bagi Anda masih sebatas memajang foto dengan buku di media sosial? Atau apakah Anda sudah sampai pada titik di mana buku itu menjadi bagian dari struktur berpikir Anda?
Literasi adalah tentang keberanian untuk mempertanyakan, kemampuan untuk mengaitkan satu ide dengan ide lainnya, dan kemauan untuk menuliskan apa yang Anda temukan. Jika Anda tidak gelisah saat tidak membaca, jika Anda tidak merasa ada yang kurang ketika tidak berdiskusi tentang ide, mungkin Anda baru sebatas "berkenalan" dengan literasi, belum menikah dengannya.
Bagi saya, menulis adalah cara untuk merawat kegelisahan itu. Menulis adalah cara saya memastikan bahwa warisan leluhur, seperti kisah Bujanggalawa dan Puspalawa, tidak berhenti sebagai tumpukan daun lontar atau naskah digital yang tak tersentuh di repositori perpustakaan.
Menutup Jarak, Membuka Cakrawala
Di penghujung hari, saat acara di perpustakaan itu selesai dan orang-orang mulai membubarkan diri, saya masih berdiri di sana, menatap deretan buku di rak. Saya membayangkan betapa banyaknya "harta karun" yang tersembunyi di sana, menunggu tangan-tangan yang tidak sekadar ingin membaca, tetapi ingin *mengolah*.
Novel yang sedang saya tulis mungkin hanya satu tetes di tengah samudra literasi Indonesia. Namun, seperti halnya Bujanggalawa dan Puspalawa yang harus menempuh jalan mereka sendiri di tengah bayang-bayang besar Rama dan Rahwana, saya pun harus menempuh jalan saya sendiri dalam dunia literasi.
Kita butuh lebih banyak orang yang tidak hanya berpidato tentang literasi, tetapi yang hidup di dalamnya. Orang yang menjadikan ruang diskusi sebagai rumah, dan buku sebagai napas. Orang yang ketika menemukan naskah kuno, tidak hanya melihatnya sebagai artefak, melainkan sebagai naskah kehidupan yang harus ditulis ulang agar tetap relevan dengan zaman.
Cimahi mungkin hanya sebuah titik kecil di peta. Namun, jika dari titik ini kita bisa menyalakan api literasi yang tidak sekadar membakar namun menerangi, maka tugas kita sebagai manusia literasi sudah separuh jalan.
Sekarang, kembali ke meja kerja saya. Ada naskah yang menunggu untuk diselesaikan, ada tokoh-tokoh kuno yang minta dihidupkan, dan ada kegelisahan yang harus saya tumpahkan ke atas kertas. Sebab, bagi saya, diam adalah kemewahan yang tidak mampu saya beli. Selama masih ada aksara yang bisa dirangkai, selama masih ada kisah yang perlu disampaikan, saya akan terus menulis.
Bagaimana dengan Anda? Apakah literasi Anda hari ini sudah cukup untuk membuat Anda gelisah?
**Catatan Penulis:** *Dunia literasi tidak butuh lagi sekadar jargon. Ia butuh pelaku yang berani mengambil risiko, mengacak-acak naskah tua, dan menyajikannya dengan rasa yang baru. Saya sedang melakukannya. Anda kapan?*
*Pertanyaan untuk kita renungkan bersama: Di antara tumpukan buku yang Anda miliki saat ini, mana yang benar-benar mengubah cara Anda memandang dunia, dan sudahkah Anda membagikan perubahan itu kepada orang lain?*
Penulis : Didin Tulus
Editor : Virgi Ali, Raden William

0 Komentar