Nusaria, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Cimahi Aktual (14/3/2026).
Lombok, Cimahi Aktual - Di tengah arus musik pop modern yang semakin digital, cepat, dan serba instan, sebuah band baru dari Lombok justru memilih berjalan ke arah sebaliknya. Nusaria hadir dengan langkah yang tenang, membawa pulang aroma musik dari masa lalu. Lewat single perdana berjudul “Tanpa Nama”, mereka menghidupkan kembali nuansa pop retro era 70-an untuk membingkai kegelisahan cinta generasi sekarang: hubungan yang berjalan tanpa status.
Nusaria digagas oleh Yuga Anggana dan Sangga, dua musisi yang sebelumnya dikenal melalui band utama mereka masing-masing—Yuga bersama Dipsy Do, sementara Sangga lewat Tunggang Gunung. Namun Nusaria lahir bukan sebagai proyek ambisi industri. Ia lebih menyerupai ruang bernapas: tempat dua sahabat bermusik tanpa tekanan ekspektasi.
Nama Nusaria sendiri lahir dari dua kata sederhana: Nusa, yang merujuk pada Nusa Tenggara Barat—tanah tempat keduanya tumbuh—dan ria, diksi lama yang berarti bersenang-senang. Sebuah nama yang sejak awal sudah menandakan niat mereka: menjadikan musik sebagai ruang bermain yang jujur, hangat, dan membebaskan.
Musisi Yuga Anggana dan Sangga, Nusaria, Cimahi Aktual (14/3/2026).
Ketertarikan Yuga terhadap karakter vokal Sangga sebenarnya sudah muncul sejak pertemuan pertama mereka pada 2015. Saat itu Sangga dikenal dengan warna vokal tinggi dan bertenaga di jalur rock. Namun bagi Yuga, suara itu menyimpan kemungkinan lain.
“Sejak awal saya penasaran, bagaimana kalau karakter vokal Sangga ditempatkan di musik retro,” ujar Yuga.
Pertanyaan itu akhirnya menemukan jawabannya sebelas tahun kemudian melalui Nusaria. Bagi Sangga sendiri, keluar dari zona nyaman justru membuka sisi emosional yang berbeda.
“Retro justru membuat saya lebih jujur secara emosional,” kata Sangga.
Kejujuran itu menjadi napas utama “Tanpa Nama.” Lagu ini ditulis Yuga pada awal 2026, terinspirasi dari fenomena yang begitu dekat dengan generasi sekarang: situationship—hubungan yang berjalan tanpa definisi, tanpa kepastian, namun tetap menyisakan perasaan yang sulit ditinggalkan.
Alih-alih membungkusnya dengan produksi pop modern, Nusaria memilih pendekatan sebaliknya. Mereka menghadirkan estetika vintage: melodi hangat, nuansa analog, serta aransemen yang sederhana namun intim. Seolah seperti memutar kaset lama di tengah malam, ketika kenangan datang tanpa diminta.
Seluruh instrumen dalam lagu ini dimainkan sendiri oleh Yuga, sementara vokal dipercayakan sepenuhnya kepada Sangga. Proses rekaman dilakukan di ruang rekaman milik Yuga, Barline Audiolab, yang sekaligus menjadi rumah produksi bagi rilisan ini.
Cover Musik Nusaria, Cimahi Aktual (14/3/2026).
Menariknya, Nusaria memilih merilis “Tanpa Nama” pada 8 Maret 2026, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Melalui narasi yang mereka bagikan, lagu ini juga membawa pesan reflektif—terutama bagi perempuan—untuk tidak bertahan dalam hubungan yang tak memberi kejelasan dan hanya meninggalkan ketidakpastian.
Meski baru memulai langkah dengan satu single, Nusaria sudah membayangkan perjalanan yang lebih panjang. Mereka berencana merilis lagu secara berkala yang nantinya akan dirangkai menjadi sebuah album penuh. Untuk saat ini, Nusaria tetap berjalan sebagai duo—menjaga format paling intim antara pencipta lagu dan penyampai suara.
Tanpa ambisi menjadi besar, Nusaria memilih bergerak secara organik. Bagi mereka, jika musik ini akhirnya menemukan banyak pendengar, itu hanyalah bonus. Yang paling penting, Nusaria telah menemukan perannya sejak awal: menjadi teman bagi mereka yang pernah mencintai tanpa nama.
Nusaria, Cimahi Aktual (14/3/2026).
Single “Tanpa Nama” sudah dapat didengarkan di berbagai platform musik digital mulai 8 Maret 2026, menghadirkan kehangatan pop retro dalam cerita yang begitu dekat dengan pengalaman cinta generasi sekarang.
Pendengar yang ingin mengikuti perjalanan, proses kreatif, serta berbagai aktivitas terbaru Nusaria dapat terhubung melalui akun Instagram resmi mereka di @nusaria.id, tempat band ini membagikan arsip, cerita, dan semesta kecil yang mereka bangun di balik musiknya.
Jurnalis : Virgi Ali




0 Komentar