Aktual

Kisah Bal’am bin Ba’ura: Ulama Berilmu Tinggi yang Tersesat oleh Dunia

Kisah Bal’am bin Ba’ura, Teladan penting tentang bahaya ilmu tanpa amal dan godaan kekuasaan

 Cimahi Aktual - Dalam tradisi agama Abrahamik—Islam, Kristen, dan Yahudi—nama Bal’am bin Ba’ura (atau Balam) dikenal sebagai sosok alim dengan ilmu agama yang sangat tinggi. Namun, kisah hidupnya justru berakhir tragis dan dijadikan peringatan keras dalam Al-Qur’an tentang bahaya mengikuti hawa nafsu dan kecintaan berlebihan pada dunia.

Ulama Besar di Zaman Nabi Musa AS

Bal’am bin Ba’ura hidup pada masa Nabi Musa AS, di wilayah Kan’an (Palestina). Ia dikenal sebagai seorang ulama besar yang menguasai kitab Taurat. Dalam berbagai riwayat, Bal’am disebut memiliki pengetahuan tentang Ismul A’dzam, nama agung Allah yang membuat doa seseorang mustajab. Kedudukannya di tengah masyarakat pun sangat dihormati.

Namun, keistimewaan ilmu tersebut tidak diiringi dengan keistiqomahan iman.

Godaan Penguasa Zalim

Ketika Nabi Musa AS dan Bani Israil mendekati wilayah Kan’an, para penguasa setempat merasa terancam. Mereka kemudian mendatangi Bal’am dan memintanya untuk mendoakan kehancuran Nabi Musa dan kaumnya.

Pada awalnya, Bal’am menolak permintaan itu karena mengetahui kebenaran risalah Musa. Namun godaan dunia perlahan menggerogoti imannya. Dengan bujukan sang istri serta iming-iming harta dan kedudukan, Bal’am akhirnya luluh.

Doa yang Berbalik Arah

Saat Bal’am mengangkat tangan untuk berdoa mengutuk Nabi Musa AS, kuasa Allah menunjukkan kebenaran-Nya. Lidah Bal’am justru mengucapkan doa kebaikan bagi Musa dan kehancuran bagi kaum Kan’an. Hal ini membuat para penguasa murka.

Merasa telah menerima imbalan namun gagal menjalankan perintah, Bal’am lalu menyarankan cara lain yang jauh lebih berbahaya.

Fitnah Moral dan Azab Wabah

Bal’am menyarankan agar Bani Israil digoda dengan wanita-wanita cantik, sehingga terjerumus dalam perzinaan dan maksiat. Tipu daya ini berhasil menimbulkan kerusakan moral di tengah Bani Israil dan berujung pada wabah penyakit (tho’un) yang menewaskan banyak orang.

Perumpamaan dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengabadikan kisah Bal’am sebagai peringatan bagi umat manusia. Ia diumpamakan seperti anjing yang menjulurkan lidahnya, baik dihalau maupun dibiarkan, karena terus mengikuti hawa nafsunya dan tidak pernah merasa cukup terhadap dunia.

Perumpamaan ini menegaskan betapa rendahnya derajat orang berilmu yang menjual kebenaran demi kepentingan pribadi.

Pelajaran Berharga untuk Umat

Kisah Bal’am bin Ba’ura menyimpan pelajaran penting yang relevan sepanjang zaman:

  1. Ilmu tanpa amal adalah bahaya
    Pengetahuan agama yang tinggi tidak menjamin keselamatan jika tidak diamalkan dengan ikhlas dan konsisten.

  2. Cinta dunia dapat merusak iman
    Harta, jabatan, dan pengaruh bisa menjadi pintu kehancuran bagi siapa pun, termasuk orang berilmu.

  3. Ulama harus berdiri di pihak kebenaran
    Ulama sejati bukanlah alat legitimasi penguasa zalim, melainkan penjaga moral dan penyampai kebenaran, meski pahit.

Cermin untuk Zaman Sekarang

Kisah Bal’am bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi kehidupan modern. Di tengah godaan popularitas, kekuasaan, dan materi, kisah ini mengingatkan bahwa keistiqomahan, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran adalah kunci keselamatan, baik bagi ulama maupun masyarakat umum.

Sebagaimana ilmu adalah anugerah, ia juga bisa menjadi ujian. Bal’am bin Ba’ura menjadi bukti bahwa jatuhnya seorang berilmu bisa lebih berbahaya daripada kebodohan itu sendiri.(Red)



0 Komentar

Iklan Banner

Pasang Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close